Wednesday, December 20, 2023

Cerpen _ Buket Untuk Mama

 

#cerpen

 

BUKET UNTUK MAMA

Oleh : Ietje S. Guntur

**

            Della sedang menekuni pekerjaannya. Sejak kemarin pesanan rangkaian bunga yang datang ke toko tempatnya bekerja mengalir banyak sekali, ditujukan kepada orang yang sama dengan ucapan yang sama. Dia agak heran, tapi dia menerima pesanan  itu dan membuatnya sesuai dengan kehendak pemesan. Sebagai seorang florist dengan spesialis bunga buket dan bunga hiasan di meja Della harus kreatif menciptakan model-model baru agar ada alternatif pilihan yang disesuaikan dengan permintaan kliennya. Tidak hanya itu Della juga selalu merangkai bunga sesuai dengan karakter dan kesukaan penerima buket.

            “Selamat pagi. Boleh saya memesan buket?” seseorang menyapanya dari balik jendela ruang kerja. Della menoleh. Tidak biasanya tamu masuk ke wilayah kerjanya. Ke mana para petugas di depan sana? Pikir Della heran. Ia segera ke luar menemui tamu tersebut.

            “Apa yang bisa saya bantu, Pak? Mau memesan buket seperti apa? Untuk siapa?” Della menyambut ramah. Matanya mencari-cari petugas yang biasanya menerima tamu dan menuliskan pesanan. Tidak ada seorang pun di situ, kecuali petugas yang sedang merapikan pesanan bunga papan.

            “Untuk ibu saya. Beliau sedang sakit, dan saya ingin mengirimkan bunga kesukaannya,” sahut tamu yang berada di depannya. Della mengajak tamu tersebut berkeliling, menunjukkan contoh rangkaian bunga dan buket yang sudah jadi. Biasanya dia membuat stok lima sampai sepuluh contoh, yang sering kali diborong habis oleh para pelanggannya. Untunglah ini masih pagi, sehingga jumlah rangkaian bunga dan buket cukup lengkap.

            “Apakah beliau suka dengan bunga anggrek atau mawar?” Della bertanya lagi, karena kebiasaan orang memesan berpatokan pada dua jenis bunga ini, kecuali ada permintaan khusus. Pemuda itu memegang salah satu buket dengan kombinasi warna warni yang ceria. Della membuatnya untuk menyemarakkan suasana. Biasanya rangkaian bunga jenis itu dipesan untuk orang yang berulang tahun atau sedang merayakan suatu keberhasilan.

            “Mau saya tambahkan bunga lain, atau saya rangkaikan yang baru?” Della menawarkan. Pemuda itu diam sejenak kemudian menganggukkan kepala.

            “Buatkan saja bunga yang baru. Kalau tidak terlalu lama, akan saya tunggu,” jawabnya sambil menatap Della.

            “Tidak lama. Silakan duduk dulu,” Della segera memilih beberapa jenis bunga dengan warna warni yang sesuai dengan perkiraan usia ibu pemuda tersebut. Dia merangkai dengan sepenuh hati, seakan memberikan rangkaian bunga itu untuk orangtuanya sendiri. Tidak lama, rangkaian bunga yang dipesan sudah selesai. Della menemui pemuda itu.

            “Apakah begini cukup? Mau ditutup dengan plastik kaca, atau cukup begini saja?”

            “Wah, indah sekali. Tidak perlu ditutup plastik kaca, saya akan membawanya sendiri. Terima kasih, ya.”

Pemuda itu membayar sesuai harga yang telah ditentukan lalu pamit diiringi dengan pandangan Della. Dalam hati ia mengagumi pemuda yang begitu sayang kepada orangtuanya. Della merasa hatinya tergores. Dia tidak memiliki ibu lagi, bahkan dia tidak pernah tahu wajah ibunya seperti apa. Hanya selembar foto usang yang dimilikinya dan itulah yang mengikatnya dengan masa lalunya.

*

Pagi baru merekah hari itu. Di awal minggu biasanya suasana toko bunga tidak terlalu ramai. Hanya pelanggan kantor yang mengambil pesanan, sedangkan pesanan pribadi jarang. Entahlah, Della juga merasa heran. Apakah orang sakit atau ulang tahun menunda hari perayaannya?

“Selamat pagi… Bolehkah saya memesan bunga lagi?” Sebuah suara mengejutkan Della. Dia sudah mengenal pemuda yang menjadi pelanggan barunya.

“Pak Herlan, selamat pagi. Bunga apa yang ingin dipesan hari ini? Untuk ibu?” tanya Della sambil menyambut tamunya di teras toko yang sudah mulai dipenuhi dengan aneka rangkaian bunga. Mereka sudah mulai bekerja sejak subuh, jadi jam tujuh pagi sudah tersedia rangkaian bunga yang indah dan segar.

“Ya, untuk ibu saya. Beliau senang sekali melihat rangkaian bunga yang saya pesan sebelumnya. Hari ini beliau sudah boleh pulang ke rumah, jadi saya mau pesan dua macam rangkaian. Yang satu untuk di kamar tidur, satu lagi untuk di ruang tengah.”

“Baiklah. Apakah ukurannya mau sebesar ini, atau yang lebih besar?” Della menunjuk ke  arah rangkaian bunga dalam pot besar dan satu lagi berukuran sedang untuk diletakkan di kamar tidur.”

Herlam memilih ukuran bunga, membayar biayanya lalu menitipkan pesan, bahwa nanti bunga akan diambil oleh supirnya. Della mengangguk senang, pagi-pagi sudah ada rejeki mengalir ke tokonya. Ia melirik ke dalam, petugas administrasi melemparkan senyum lebar kepadanya. Biasanya setelah ini pesanan akan mulai masuk karena pintu rejeki sudah terbuka, begitu keyakinannya.

*

Setelah memesan rangkaian bunga beberapa kali, Herlan mengatakan bahwa mulai minggu depan dia tidak akan memesan bunga lagi. Della terkejut. Herlan dan ibunya adalah pelanggan yang baik dan tidak rewel. Mereka memberikan apresiasi dan juga rekomendasi kepada relasinya untuk memesan bunga di toko tempat Della bekerja. Dengan ragu-ragu Della mengirim pesan singkat kepada Herlan, menanyakan apakah ada layanan mereka yang salah atau kurang disukai. Dalam sekejap Herlan membalas pesan itu dengan kalimat pendek ,”Mama sudah meninggal, tidak perlu buket lagi.”

Della merasa terkejut sekaligus berduka. Walaupun ia belum pernah bertemu dengan Ibu Herawati, orangtua Herlan, tapi dia merasa sangat dekat dengan wanita itu. Setiap kali merangkai bunga pesanan Herlan, ia seakan berkomunikasi dengan orang yang akan menikmati hasil karyanya. Tidak jarang dia berbicara pelan, seperti berhadapan orangnya langsung. Kali ini dia ingin memberikan karyanya yang terakhir untuk wanita yang telah memberinya banyak rejeki dan jalan untuk mendapat pelanggan lebih banyak.

“Pak Herlan, bolehkah saya mengetahui di pemakaman mana Ibu Herawati dimakamkan?” Della mengirim pesan lagi. Kalau sudah terlambat mengirim bunga dukacita ke rumahnya, ia masih punya kesempatan untuk memperindah makam tempat wanita itu berbaring dalam keabadian.

Herlan menjawab tidak lama kemudian, lengkap dengan nama blok serta peta jalan ke sana. Della mencatat dengan cermat, dan berjanji akan segera membuat rangkaian bunga yang pasti disukai oleh pelanggannya itu.

*

Situasi di lokasi pemakaman sangat sepi. Cuaca mendung setelah hujan semalaman membuat suasana terasa hening dan hikmat. Della berjalan pelan, menyusuri blok demi blok mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Herlan. Dari kejauhan dilihatnya ada makam yang masih baru, tanpa bunga rangkaian di atasnya. Mungkin pemakaman sudah berlangsung beberapa hari dan sekarang sudah dibersihkan oleh petugas makam.

Dengan hikmat Della berlutut di sisi makam yang tanahnya masih basah. Ada sedikit sisa bunga tabur yang telah mengering. Della membaca nama di papan petunjuk Herawati binti Hasnan. Benar, ini adalah makam wanita yang banyak menolongnya. Mendadak hatinya terasa ngelangut, terharu membayangkan wajah wanita itu. Bagaimanakah rupanya? Bila melihat wajah Herlan putranya, tentulah wanita ini juga memiliki paras yang menawan. Sayangnya ia tidak pernah melihat foto ataupun melihatnya.

Setelah meletakkan rangkaian bunga dan berdoa, Della bangkit dan meninggalkan lingkungan makam. Rasanya aneh sekali, seperti ia meninggalkan seseorang yang dicintainya. Apakah begini rasanya bila kita kehilangan orangtua? Pikir Della sedih. Dia tidak pernah tahu kapan orangtuanya meninggal. Sepanjang hidupnya dia hanya sendiri, diasuh oleh keluarga ibunya dan kemudian dititipkan di panti asuhan, sehingga belum pernah merasakan kehilangan orangtua.

*

Della sedang mengatur pesanan bunga yang harus dikirim pagi itu ketika dilihatnya Herlan datang ke tokonya. Ia segera keluar menemui tamunya. Apakah Herlan akan memesan bunga lagi? Dilihatnya wajah pemuda itu tampak murung. Mungkin rasa sedih dan dukacitanya masih bergelayut. Siapa yang tahu isi hati orang?

“Selamat pagi, Della.”

“Selamat pagi, Pak Herlan. Apakah bapak mau pesan bunga lagi?” Tanya Della berhati-hati. Dia tidak ingin terlihat rakus pesanan, tapi sebagai pelanggan ia harus melayani Herlan dengan sebaik-baiknya.

Herlan diam beberapa saat, lalu memandang berkeliling ke arah rangkaian bunga yang sudah siap dikirim. Ia menggelengkan kepala, kemudian menatap Della.

“Kamu yang mengirimkan bunga untuk makam Mama?” Herlan bertanya lembut. Nada suaranya sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Della mengangguk, hatinya diliputi kekuatiran. Dia tidak ingin dikatakan lancang, tapi sejujurnya dari lubuk hatinya ia ingin menyampaikan rasa terima kasih. Hanya membuat rangkaian bunga yang dapat dilakukannya, dan  itu sudah atas ijin atasannya.

“Iya, Pak Herlan. Mohon maaf bila Pak Herlan tidak berkenan,” sahut Della dengan sopan. Ia menatap pasrah ke arah pemuda itu, bahkan bila Herlan mengamuk ia akan menerimanya.

Pemuda itu tersenyum. Matanya bercahaya sekarang. Wajahnya yang semula murung seperti langit mendung, sekarang terlihat memancarkan semangat.

“Aku tidak marah, Della. Mengapa harus marah? Aku justru ingin mengucapkan terima kasih atas perhatian kamu terhadap Mama. Saat tidak ada lagi orang yang peduli kepada beliau, kamulah yang memberikan perhatian yang tulus. Mungkin Mama tidak kenal kamu, tapi aku yakin Mama merasakan ketulusan yang kamu berikan.”

Della menundukkan kepala. Matanya mendadak terasa panas. Tidak disangkanya bahwa orang seperti Herlan bisa bersikap lemah lembut dan sopan kepadanya. Kebanyakan pelanggan hanya melihat dia sebagai florist, seorang tukang penata bunga. Tidak lebih. Herlan berbeda.

“Alhamdulilllah…saya melakukannya karena merasa mendapat perhatian dan penghargaan dari beliau atas karya saya. Itu sangat menguatkan hati saya. Sekarang banyak pelanggan baru yang datang atas rekomendasi Ibu Herawati. Mereka bahkan melontarkan pujian dan penghargaan atas setiap karya saya yang ada di rumahnya.”

“Della…kamu orang baik dan tulus. Aku dan Mama melihatnya dari hasil karyamu. Setiap kali tidak pernah sama, selalu ada sentuhan pribadi seperti pesan khusus untuk Mama. Mulai sekarang, maukah kamu membuatkan rangkaian bunga buket setiap minggu untuk makam Mama? Aku akan mengambilnya ke mari.”

Della tertegun. Dia tidak menduga, bahwa Herlan bukannya marah, malah memberikan order untuk makam ibunya. Entah sampai berapa lama ini akan berlangsung. Yang jelas, selama Herlan merasa puas, maka pesanan pasti akan mengalir. Dengan wajah sumringah Della menganggukkan kepala. Ia pasti akan membuat rangkaian bunga dengan tema berbeda setiap minggu.

*

Minggu demi minggu berganti. Waktu seakan mengalir seperti air sungai di pegunungan. Terasa begitu cepat. Hubungan Herlan dan Della juga demikian. Dari sekedar memesan bunga setiap minggu, mereka semakin sering mengobrol dan berdiskusi. Herlan mengagumi daya kreasi Della yang seakan tidak pernah terputus. Atasannya mengakui hal itu. Tanpa Della, mungkin toko bunganya akan sama saja dengan toko bunga lain, tidak memiliki ciri khas. Tangan Della selalu lincah menari di antara bunga-bunga yang sedang dirangkainya.

“Della, maukah kamu menemani aku besok ke makam Mama?” tanya Herlan di suatu pagi. Della terkejut. Selama ini mereka hanya mengobrol di toko dan sesekali makan bakso di warung dekat toko bunga itu ketika pesanan Herlan telah selesai. Namun, pergi ke makam bersama pemuda itu tidak pernah terlintas di dalam pikirannya. Apa urusannya? Dia hanya penyedia jasa merangkai bunga dan Herlan seorang pelanggannya. Apakah Herlan mau meminta aku menghias makam ibunya? Pikir Della sebelum memberikan jawaban.

“Besok hari ulang tahun Mama. Aku ingin memberikan buket yang indah untuk beliau. Hanya bunga dan doa yang bisa kuberikan. Selama ini aku sibuk sendiri dengan pekerjaan dan karirku. Aku seakan mengabaikan Mama. Ketika Mama sakit beberapa waktu lalu, aku baru menyadari bahwa kehadiran Mama dalam hidupku sangat penting. Beliau yang selalu mengingatkan aku untuk banyak hal. Dari hal remeh temeh sampai hal penting, Mama mengingatkan dengan lembut. Bahkan di sela waktu istirahatnya Mama masih berusaha memasak makanan kesukaanku.” Suara Herlan seperti tercekat. Della menatap pemuda itu dengan penuh haru. Dia ikut merasakan dan memahami betapa sedihnya bila tidak memiliki seorang ibu lagi. Beruntung Herlan masih punya kesempatan untuk berbakti dan menemani ibunya sampai akhir hayatnya. Sedangkan dia?

“Baik, Pak Herlan. Akan saya buat rangkaian yang terbaik. Jam berapa besok kita akan ke makam? Saya minta ijin dulu kepada Pak Bos, ya?”

“Sepagi mungkin, agar masih sepi dan nyaman di sana. Oya, satu lagi. Berhenti menyebutku Pak Herlan. Aku merasa seperti seorang lelaki tua. Sebut saja namaku, atau kalau kamu sungkan boleh panggil Kakak atau Abang, apa pun yang kamu rasa nyaman.”

Della melongo. Tidak boleh menyebut Pak Herlan lagi?

*

Angin pagi bertiup pelahan. Della berjalan pelan mengikuti langkah Herlan. Pemuda itu membawa sebuah foto keluarga. Ada Herlan, ibu, ayah dan satu kakak perempuannya. Kata Herlan, kakak perempuannya sekarang menetap di luar negeri. Itu yang membuat ibunya sedih karena menahan rindu. Apa boleh buat, karir dan keluarga suaminya ada di negeri orang.

“Ibumu cantik. Ayahmu juga keren.” Hanya itu yang dapat diucapkan Della ketika Herlan menunjukkan foto ibu dan ayahnya. Tidak heran pemuda itu mewarisi kegantengan ayahnya. Sayang, kedua orangtuanya sudah meninggal sehingga Herlan sekarang tinggal sendirian di rumahnya yang lumayan besar. Kakaknya tidak mau pulang ke Indonesia, dan menyuruh adiknya menjual rumah itu bila ia takut tinggal di sana. Herlan bilang, ia masih mempertimbangkan beberapa hal sebelum membuat keputusan.

Herlan berlutut di tepi makam, membersihkan daun-daun yang berserakan di atas rerumputan yang sekarang tumbuh subur dan terawat. Della mengambil tempat di sisinya, lalu meletakkan karangan bunga di bagian kepala makam.

“Ibu Hera, kami datang. Ibu baik-baik saja, kan?” bisik Della seakan berbicara dengan wanita itu. Herlan terkejut. Sikap polos dan spontan Della  sudah lama membuatnya tertarik, tapi dia tidak menyangka bahwa gadis itu akan berbicara dengan ibunya seakan-akan mereka sedang berkunjung ke rumah.

Dengan lembut ia meraih telapak tangan gadis itu lalu menggenggamnya. Ia merasa tangan kasar gadis itu karena terbiasa bekerja keras dengan berbagai alat dan tangkai bunga yang setiap saat menusuknya. Pelan-pelan ia mengangkat tangan gadis itu lalu menciumnya lembut. Della terkejut, tapi ia tidak berani menarik tangannya. Mereka berpandangan sekarang. Mendadak Della merasa jantungnya berdetak kencang dan darahnya mengalir lebih cepat. Ia merasa gugup dan tidak tahu harus melakukan apa.

“Della, bilang sama Mama, bahwa aku menggodamu,” bisik Herlan lembut. Della mengerutkan tubuhnya. Dia kuatir bahwa Herlan mengalami halusinasi atau apa. Tadi dia sendiri berbicara dengan Ibu Herawati karena kebiasaannya berkomunikasi dengan siapa saja.

“Aku…apa? Mengapa harus aku yang mengatakannya? Bukankah kamu yang melakukannya?” Della berkata gugup. Dia menatap ke dalam mata Herlan. Tidak ada tanda-tanda pemuda itu akan menyakitinya atau sedang berhalusinasi. Yang dilihatnya hanya kehangatan dan kelembutan.

“Baiklah…aku akan bilang, tapi kamu harus setuju, ya?” Mata Herlan menatap tajam, meluluhkan hati Della. Tanpa sadar ia mengangguk.

“Ma…ini kami datang. Aku dan Della, gadis baik hati yang menyayangi Mama. Aku ingin minta restu Mama, aku akan melamar Della untuk menjadi pendampingku. Tadi katanya dia sudah setuju. Boleh, ya Ma?”

Kali ini Della benar-benar terperanjat. Dia mau menarik tangannya dan menjauhi pemuda itu, tapi dia kalah cepat. Herlan merangkul dan menarik ke dalam pelukannya.

“Apa…kenapa kamu minta restu Mama? Apa yang sudah aku setujui?” Della bertanya panik. Apakah dia tidak salah dengar? Herlan mau melamarnya? Melamar menjadi pegawai di toko bunga?

“Della…dengarkan aku, ini serius. Aku tidak main-main ketika minta restu sama Mama. Aku hanya menjalankan amanat beliau. Pesannya sebelum meninggal adalah agar aku segera mencari pendampingku, yang hormat dan sayang kepada Mama, apa pun keadaannya. Sejak awal kamu membuat rangkaian bunga untuk Mama, kami sudah menilai bahwa kamu bukan florist biasa. Kamu memiliki passion dan cinta untuk setiap karya yang kamu lahirkan. Kami merasakan, terutama Mama, bahwa kamu selalu berkomunikasi melalui bunga-bunga itu. Awalnya aku tidak percaya apa yang Mama katakan, tapi sekarang aku percaya bahwa kamu bisa berkomunikasi kepada apa saja dengan berbagai cara.”

“Jadi, aku harus bagaimana?” Della mengerutkan tubuhnya. Dia belum siap menerima permintaan Herlan, apa pun alasan pemuda itu. Siapa dirinya sehingga berani menerima lamaran Herlan? Pungguk boleh merindukan bulan, tapi dia sudah lama tidak berani merindukan siapa-siapa.

“Pegang tanganku, Della. Aku minta, atas restu Mama, maukah kamu menjadi istriku?” Herlan berkata lembut. Della merasa dadanya bergemuruh, seluruh tubuhnya seperti terbakar, matanya terasa panas dan basah. Dengan ragu-ragu ia menganggukkan kepalanya.

Herlan merengkuh Della ke dalam pelukannya. Dia tahu, bahwa gadis itu sebatang kara di dunia ini. Dia tidak punya keluarga, tidak punya rumah, tidak punya pelindung. Sekarang dia akan punya rumah, akan punya keluarga, akan ada seseorang yang  melindungi dan menemaninya. Herlan yang akan memberikan itu semua kepadanya.**

Bintaro, 3 Desember 2023

**

No comments:

Post a Comment