#episode5
#cermis
Dear
Sahabats,
Cerita
tentang Perempuan di Kedai Kopi ternyata membuat saya terobsesi. Setelah 4
episode ceritanya, saya jadi kesulitan untuk menghentikan ceritanya. Namun,
sisi mana lagi yang harus diulik? Akhirnya saya menulis tentang masa lalu
Amelia dengan lebih gamblang. Ini juga jadi beranak pinak. Saya terpaksa membuatnya
menjadi beberapa bagian.
Ini
adalah episode ke 5 tentang masa lalu Amelia. Mungkin tidak terlalu menggigit seperti yang sebelumnya, tapi
menurut saya ini penting untuk memahami cerita awal dan kelanjutannya.
Begitu
dulu, ya spillnya…semoga berkenan dan tetap penasaran.
Bintaro,
21 Desember 2023
Salam
hangat,
Ietje
S. Guntur
*
#Cerpen
Oleh : Ietje S.
Guntur
*
Serial kisah misteri :
Episode 1 : PEREMPUAN DI KEDAI KOPI
Episode 2 : MISTERI AROMA KOPI
Episode 3 : KUCING HITAM MEMBERI TANDA
Episode 4 : PENEMUAN DI VILLA SEGITIGA
(Cerita episode sebelumnya) :
Tanpa
banyak berbicara mereka meninggalkan lokasi villa. Semua berjalan bergegas agar
segera dapat pergi dari tempat itu. Yodi yang masih penasaran menoleh ke
belakang. Tampak villa yang tadi suram seperti bersinar dari dalam. Tak mau
tergoda lagi oleh pemandangan yang membelenggu ingatannya, Yodi segera
melangkah dengan cepat. Sandy berlari lincah di depannya, mengikuti peti mati
yang diusung oleh tim forensik. Sesekali dia mengeong pelan, lalu berhenti
menatap Yodi.
“Amelia
sudah ditemukan, Sandy. Dia sudah tenang sekarang. Kita pulang, ya?”
Kucing
itu mengeong sambil menggosok-gosokkan badannya. David yang berusaha mengelus
Sandy, ditabok oleh kucing itu dan memandangnya dengan wajah cemberut. Yodi
tersenyum. Sandy memang posesif terhadapnya dan memusuhi siapa saja yang
mendekati.
“Iya,
deh…aku nggak mengganggu lagi. Kita antar Amelia ke rumahsakit, ya? Nanti kita
antar dia ke rumah keabadiannya. Kamu mau ikut?” David berusaha membujuk Sandy.
Kucing hitam itu melompat ke pelukan Yodi, lalu mengeong dan menjilat wajah
tuannya. Ia melirik tajam ke arah David, seakan mengejeknya.
“Kata
Sandy, dia mau ikut. Dia akan mengajak Sandra juga.” Ujar Yodi sambil melirik
ke arah David yang merah padam wajahnya.
“Kucing
sok tahu, loe…ih!” sungut David sambil mempercepat langkah menuju mobilnya.
“Meoooooongg….”
Hanya itu jawaban Sandy sambil mempererat pelukannya.**
*-*
#Cerpen
#Episode
5
Oleh : Ietje S. Guntur
*
Suasana di area pemakaman sangat
sepi. Angin pagi yang lembab dan mengandung embun berembus semilir, membawa
aroma rumput dan bunga yang seakan datang dari kejauhan. Hanya ada Ardin,
Johan, Arkan dan beberapa kerabatnya serta petugas pemakaman. Yodi, Sandy si kucing
hitam, Ravi, David dan Sandra adalah orang luar keluarga yang turut dalam
prosesi itu. Semula keluarga akan memakamkan Amelia di Kawasan Villa Segitiga,
namun karena daerah itu diperkirakan masih rawan bencana, maka mereka
memutuskan untuk memilih pemakaman umum yang cukup aman dan terjaga. Seorang
pemuka agama mengucapkan doa untuk Amelia diikuti oleh para hadirin.
Ardin menatap gundukan tanah tempat
adiknya berbaring. Beberapa rangkaian bunga terlihat menghiasi makam yang baru
itu dan sepotong kayu penanda dengan nama dan tanggal lahir almarhumah tertulis
jelas. Yang masih menjadi perdebatan adalah tanggal kematiannya, sehingga
mereka memutuskan untuk dikosongkan saja. Johan menunggu keputusan dari pihak
forensik yang akan memastikan saat kematian omanya, apakah pada saat ditemukan
dulu, atau ada perkiraan waktu yang lain.
Yodi tidak dapat menahan
keharuannya. Setelah perjuangan yang cukup berat selama beberapa bulan,
akhirnya Amelia dapat beristirahat dengan tenang sesuai harapannya. Ia berharap
setelah ini tidak ada gangguan lagi dari pihak suami Amelia maupun orang yang
disuruhnya untuk mencari perempuan itu. Nama suami Amelia telah dilaporkan oleh
Ardin ke pihak kepolisian Indonesia, di mana pun dia berada sekarang, hidup
atau sudah mati. Ia tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang keji.
Tim forensik menemukan tulang
belikat yang pecah karena peluru yang ditembak dari jarak dekat, juga beberapa
tulang rusuk, tulang tangan dan kaki yang mengalami kerusakan karena perlakuan dengan
benda keras. Yodi tidak dapat membayangkan betapa sakitnya dan penderitaan yang
dialami oleh Amelia. Pantas saja dalam setiap kedatangannya ke Kedai Kopi ia
selalu menunjukkan wajah muram seakan sedang menahan sakit. Ia juga selalu
menutup tubuhnya dengan jaket yang tebal.
Yang
menjadi tanda tanya Yodi, apakah noda darah yang dilihatnya di baju bagian
punggung Amelia merupakan bukti bahwa dia ditembak? Apakah kematiannya terjadi
saat itu atau Reno berhasil mengejarnya dan menyiksanya lagi? Bagaimana dengan
jasad Amelia yang ditemukan di sungai beberapa waktu kemudian? Sungguh kejadian
yang sangat tidak masuk akal, yang dilakukan oleh seorang suami terhadap istri
yang konon dicintainya. Apa tujuan Reno menyakiti dan menyiksa istrinya?
Pikiran Yodi berputar seperti pusaran angin yang tidak tentu arah. Ia yakin,
suatu saat kenyataan sebenarnya akan terungkap.
Ternyata kekejaman Reno sudah
dikenal oleh warga sekitar. Beberapa orang warga yang berusaha mengintai saat
terdengar jeritan menyayat di malam hari melihat dengan mata kepala sendiri
saat Reno menyiksa istrinya. Mereka hanya bisa membantu bila Reno dan
komplotannya pergi, tapi tidak dapat melepaskannya karena Amelia diikat dengan
rantai yang sangat kuat. Tidak ada yang berani melaporkan Reno ke pihak
berwajib karena pria itu sudah mengancam dan menakuti warga. Ketika terjadi
bencana alam tanah longsor, Reno menghilang dan kemudian warga juga banyak yang
pindah. Kejadian itu seakan ikut terkubur dan sedikit demi sedikit dilupakan
orang. Hanya Pak Ridwan dan beberapa warga yang bertahan dan menyimpan rahasia
itu sampai bertahun-tahun kemudian.
*
David segera mengurus pembelian
tanah di kawasan lembah tempat Villa Segitiga berada. Mereka belum merencanakan
secara detil peruntukannya, namun seperti rencana semula akan dimanfaatkan
untuk menanam kopi. Sedangkan bangunan Villa Segitiga sudah tidak layak untuk
ditempati, sehingga akan dipertimbangkan untuk alternatif lain atau dibongkar.
Walaupun ada rasa sayang karena banyak kenangan indah di tempat itu, tapi
luka-luka dan kenangan pahit tentang Amelia membuat keluarga Megantara
memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan kenangannya selama-lamanya.
Keluarga
Ardin Megantara sangat berterimakasih karena David dan Yodi telah mau bersusah
payah mengurus pajak bumi dan bangunan yang sudah terlantar selama berpuluh
tahun. Mereka menawarkan harga yang murah sekali, jauh di bawah harga NJOP
daerah setempat. Bagi mereka bukan soal uang yang jadi tujuan, yang penting bagi mereka ada
orang yang menjaga warisan keluarga dan memberdayakannya dengan baik. Itu
adalah salah satu poin yang terdapat dalam surat di amplop yang diserahkan
Amelia kepada Yodi, untuk diteruskan kepada abangnya.
Sampai saat ini Yodi belum
mempercayai apa yang dialaminya. Bagaimana Amelia, yang seharusnya sudah meninggal,
masih dapat memberikan amplop berisi pesan-pesan kepadanya. Dia nyata, bahkan
ketika Yodi menatap wajahnya, tidak ada tanda-tanda dia bukan seseorang yang
sesungguhnya. Di mana selama ini amplop itu disimpan atau disembunyikan? Dan
anehnya, bapak-bapak yang datang ke kedainya kemudian juga mengincar pesan di
dalam amplop itu. Apa maksudnya?
Dari pembicaraan sekilas dengan
Ardin, Yodi menangkap kesan, bahwa Reno mengincar harta warisan Tuan Megantara
yang telah diberikan kepada Amelia. Bukan sekedar tanah dan villa di lembah,
tapi masih banyak lagi. Saham-saham di beberapa perusahaan, surat berharga,
bahkan kepemilikan sebuah tambang batubara yang disembunyikan. Reno mengincar itu semua
dibantu oleh orang-orang kepercayaan yang setia kepadanya tanpa batas. Mereka
bukan hanya mencari Amelia dan mengancamnya saat masih hidup, tetapi dalam
perjalanan kematiannya pun mereka tetap mencari di mana pun wanita itu berada.
Kepastian akan waktu kematian Amelia
akan sangat membantu untuk membuat akte kematiannya secara resmi sehingga semua
warisan atas nama Amelia dapat dialihkan kepada pewarisnya. Reno dengan licik
telah membuat akte kematian palsu, namun dia tidak berhasil mendapatkan warisan
yang diinginkannya. Itu menimbulkan kemarahannya yang kemudian bersumpah akan
mencari Amelia selamanya.
Tuan Megantara tidak berumur panjang.
Ia meninggal dunia tidak lama setelah pernikahan Amelia, kemudian istrinya kembali
ke negaranya bersama anak-anaknya. Hanya Amelia yang ditinggal di Indonesia
karena mereka beranggapan, bahwa Amelia sudah berbahagia bersama suaminya.
Awalnya Reno memang tampak baik dan menyintai Amelia, namun ketamakannya telah membutakan
hati. Setelah tidak ada lagi keluarga yang melindunginya, mulailah Reno
memperlihatkan sifat asli dan motivasi menikahi putri kesayangan keluarga
Megantara.
Airmata Ardin nyaris tidak berhenti
mengalir saat menceritakan penggalan-penggalan kisah kehidupan Amelia yang
diketahuinya. Bagaimana dia tidak sedih dan merasa hatinya hancur karena tidak
mengetahui penderitaan adik kesayangannya. Amelia beberapa kali menyuratinya, tapi
tidak terlihat bahwa ia menderita sehingga keluarganya mengira ia baik-baik
saja. Beberapa kali kunjungan keluarga ke Indonesia, Amelia juga menyambut
dengan gembira. Ketika Ardin menanyakan, mengapa adiknya belum juga memiliki
keturunan Amelia hanya berkilah bahwa dia masih ingin berbulan madu dengan
Reno.
“Mungkin saat itu Amelia sudah sakit
dan tubuhnya tidak bisa mengandung seorang bayi. Atau, Reno memang tidak pernah
memperlakukan selayaknya seorang istri,” ujar Ardin dengan mata menerawang dan
bibir bergetar menahan kesedihan.
“Apakah penampilan Amelia memang
selalu tampak ringkih dan pucat?” Tanya Yodi hati-hati, berusaha membayangkan
Amelia yang datang ke kedai kopinya.
Ardin menggelengkan kepala, ia meremas-remas tangannya seakan menyimpan rasa
sakit yang menyengat.
“Amel sangat periang. Ia menjadi
bidadari di dalam keluarga kami. Saat kami mengajaknya untuk pindah ke luar
negeri, ia menolak dengan alasan ingin menjaga makam ayah kami. Sungguh mulia
hatinya dan menunjukkan kedekatannya dengan Papi.” Sekarang Ardin tidak dapat
menahan diri, ia menangis sesenggukan hingga suaranya serak. Johan segera
merangkulnya, menenangkan kakeknya.
“Hanya sekali ia mengunjungi kami
saat berlibur ke Eropa. Saat itu musim gugur dan suhu di Jerman memang sudah
lebih dingin menjelang akhir tahun. Amel selalu menggunakan baju yang tebal
sehingga kami tidak dapat melihat kondisi tubuhnya yang sebenarnya. Dia bahkan
menolak tidur bersama Mami seperti kebiasaannya semula. Lagi-lagi dia beralasan
demi menjaga perasaan Reno. Padahal saat berlibur itu Reno sering pergi entah
kemana tanpa membawa Amel.”
*
Yodi sedang merapikan Kedai Kopi
yang sekarang sedang diperluas ke bangunan di samping kedai lama. Pemiliknya
memberikan harga yang kompetitif karena akan pindah ke lain kota. Sungguh
beruntung, sehingga Yodi dan David dapat mewujudkan satu demi satu impian
mereka. Yodi ingin agar kedai kopi ini tidak sekedar tempat nongkrong dan
menikmati kopi, tapi juga sebagai sarana edukasi dan tempat pertemuan yang
bermanfaat.
Seorang
sahabatnya menyarankan untuk membuat ruang pustaka dan pojok baca, hal itu
sangat sesuai dengan keinginan David. Tidak hanya itu, David sudah membawa
pianonya ke Kedai Kopi dengan alasan waktunya lebih banyak di kedai dari pada
di rumah. Selain untuk menyalurkan hobinya di bidang musik, piano itu juga
dapat dipergunakan bila ada pengunjung yang ingin mendengarkan live music.
Bersama Yodi yang bisa bermain piano dan biola, mereka dapat menghibur
tamu-tamu pada acara khusus. Sementara itu, Ravi sudah bisa diandalkan menjadi
barista untuk membantu Yodi dan sudah cukup trampil untuk membuat menu standar. Kini mereka tinggal mematangkan
konsepnya dengan bantuan Sandra yang semakin sering terlibat dalam beberapa
program kerja kedai kopi.
“Selamat pagi…apakah sudah ada
orang?” Suara Sandra yang ceria dan hangat memecah keheningan pagi. Ia sudah
biasa datang ke kedai kopi, dan sekarang memilih masuk dari pintu belakang karena
tanda Closed masih tergantung di depan . Yodi menoleh dan tersenyum melihat
gadis itu.
“Selamat pagi, tumben jam
segini sudah datang. Mau sarapan apa?” Yodi menawarkan. Dia sedang menata
beberapa potong pastry yang baru diantar oleh pihak pemasok langganannya.
“Seperti biasa, kopi tanpa gula dan
roti bakar polos. Eh, David belum datang, ya?”
“Belum, mungkin agak siang. Dia ada
keperluan di luar. Janji jam berapa dengan dia?”
“Nggak janji jamnya sih. Aku sengaja
ke sini pagi-pagi biar bisa kerja. Kalau di rumah sendirian suka suntuk dan
mengantuk. Nanti kalau David datang, aku mau memberikan konsep terbaru untuk
kerja sama berikut.”
“Hm…semoga lancar, ya. Aku juga mau
menambah staf. Kasihan Ravi sendirian karena
sering kutinggal. Saat akhir pekan, benar-benar repot bila tidak ada
teman. Aku sudah menambah anak magang untuk pramusaji sehingga Ravi bisa fokus
menjadi barista saja.”
“Wah, keren. Aku lihat tamu-tamu
juga semakin banyak, ya. Eh, ngomong-ngomong, kemana nih kesayanganku si
Sandy?”
“Biasanya dia di teras depan atau di
belakang. Dia selalu menunggu Ravi sekarang, karena setiap hari sudah bersamaku
di rumah. Mungkin dia bosan hanya melihat wajahku saja,” Yodi tersenyum , lalu mencari
si Kucing Hitam yang sekarang menjadi maskot kedai kopi.
“Nah, itu dia. Manja benar ke Ravi,
ya? Mungkin karena si Bocah sayang sama hewan, jadi si Sandy juga sayang sama
dia.” Sandra menyambut kucing hitam itu yang langsung melompat ke pangkuannya
sambil mendengkur manja. Ravi masih sering disebut Bocah oleh Yodi, David dan
Sandra karena mereka menganggapnya sebagai adik kesayangan. Hal itu
menyenangkan Ravi karena dia merasa sebagai bagian dari sebuah keluarga, bukan
sekedar pekerja.
Ravi masuk mengikuti Sandy lalu
menyapa Sandra. Sekarang hampir setiap hari gadis itu mampir ke Kedai Kopi.
Selain untuk membahas masalah bisnis dan program kerja, ia juga terlihat sedang
menjalin hubungan khusus dengan David. Sebagai sesama pencinta kucing, mereka
seperti tidak pernah kehilangan topik pembicaraan. Ravi pernah nyeletuk begini,
“Pagi-pagi sudah ngomongin kucing, kayak nggak ada pekerjaan lain yang lebih
penting.” Dia lalu tertawa kecil di belakang, mengingatkan David pada
kejadian beberapa bulan lalu saat kedatangan si Kucing Hitam ke Kedai Kopi.
David datang tidak lama kemudian
saat Sandra sedang menyesap kopinya. Pemuda itu melirik sesaat, lalu berbisik,“
Jangan duduk di sini. Pindah ke sebelah sana saja.”
Sandra mendelik, tempat itu adalah
meja favoritnya. “Kenapa sih?” Tanya Sandra dengan wajah heran.
“Sstt…sudah,
ke sana saja. Aku selalu membayangkan Amelia kalau ada orang yang duduk di sini.”
Jawab David, yang membuat Sandra bergegas berdiri dan pindah tempat duduk. Ia mengerutkan
badan dan bergidik ngeri. Tentu ia tidak mau disamakan dengan wanita misterius
itu.
“Benarkah
Amel masih suka memperlihatkan diri?” Bisik Sandar sambil menatap David.
Beberapa kali ia merasa seakan ada seseorang yang memperhatikannya bila ia
sedang duduk di meja dekat jendela, yang kata David tempat favorit Amelia.
David mengangkat bahu.
“Tidak
secara nyata, tapi sesekali ada aroma kopi yang menguar pada saat kedai akan
tutup di malam hari,” David menjawab pelan. Dia memang kurang percaya dengan
hal-hal yang berbau mistik atau misteri, tapi kalau dia mengalami sendiri? Bila
Yodi tidak bertugas malam, hanya dia bersama Ravi, aroma itu hampir selalu
tercium. Paling sering terasa di dekat meja favorit Amelia atau di dekat piano.
David sudah berniat menggeser posisi piano itu agar terlihat dari meja bar
layanan, tapi Yodi bilang tempat di pojok tersembunyi itu lebih bagus.
Akustiknya tepat, sehingga suara dapat menyebar rata hampir ke seluruh area
kedai kopi yang sekarang semakin luas.
“Hmm…ngomong-ngomong,
Yodi suka main piano?” bisik Sandra mengalihkan perhatian. Ia tidak ingin
membahas tentang Amelia dan aroma kopi lagi karena membuatnya tidak nyaman.
David tersenyum, mengangguk.
“Dia
malah bukan sekedar bermain piano dan biola. Dia suka bikin lagu. Belakangan
aku melihatnya membuat coret-coretan partitur entah untuk apa. Jangan-jangan
mau bikin lagu buat Amelia.”
“Ih…serem,
ah. Ntar Yodi main musik lagi di makam Amelia. Dia kan agak berseni, kadang
jalan pemikirannya aneh.” Celetuk Sandra sambil melirik ke arah bar, tepat pada
saat Yodi juga sedang menatap ke arah mereka. Mau tidak mau Sandra melontarkan
senyumannya. Tiba-tiba Yodi mendatangi meja Sandra.
“Tadi
ngomongin aku, ya? Memangnya kenapa kalau aku bikin lagu buat Amelia? Dia
sangat inspiratif, lho. Ntar waktu seratus hari pemakamannya, karena aku nggak
tahu kapan dia meninggal, aku mau membawakan lagu khusus untuknya.
Mudah-mudahan bisa segera selesai lagunya minggu ini.” Yodi tersenyum hangat.
Sandra menatap dengan wajah cemas.
“Iya…iya…bikin
deh. Biar Amelia senang dan nggak mengganggu kita lagi. Kayaknya dia masih
betah berkeliaran di sini. Kadang aku masih mencium aroma kopi susu kesukaannya
pada saat mau tutup kedai,” David memberi respons cepat. Yodi menatap
sahabatnya.
“Hmm…mungkin
dia merasa home sweet home di sini,” Yodi mengerlingkan matanya.
“Maksud
kamu? Dia mau menghantui tempat ini?” Bisik Sandra dengan wajah pucat. David
menepuk punggung tangannya, menenangkan.
“Tidak
menghantui, Sayang. Dia nyata, bukan hantu.” David menatap lembut gadis di
depannya, membuat wajah Sandra bersemu merah. Yodi tersenyum penuh arti,
melirik sahabatnya. Bisa-bisanya David mengambil kesempatan.
“Yang
jelas, siapa pun dia, apa pun wujudnya, dia tidak mengganggu kita. Mungkin dia
butuh sebuah rumah untuk jiwanya. Dia sekedar ingin mampir di sini. Biar
sajalah. Aku menyukainya.” Yodi tersenyum kepada kedua sahabatnya yang
tercengang mendengar pernyataannya.
“Kamu
menyukainya?” David dan Sandra berseru berbarengan.
“Memangnya
masalah buat kalian?” Yodi menatap keduanya, lalu melenggang pergi, kembali ke
posisi di balik meja bar dan memulai tugasnya.**
(Bersambung
- Episode 6)
Bintaro,
21 Desember 2023
Ietje
S. Guntur
#ceritamisteri
Ilustrasi
foto diunduh dari Pinterest.
No comments:
Post a Comment