Wednesday, December 20, 2023

Cerpen _ Buket Untuk Mama

 

#cerpen

 

BUKET UNTUK MAMA

Oleh : Ietje S. Guntur

**

            Della sedang menekuni pekerjaannya. Sejak kemarin pesanan rangkaian bunga yang datang ke toko tempatnya bekerja mengalir banyak sekali, ditujukan kepada orang yang sama dengan ucapan yang sama. Dia agak heran, tapi dia menerima pesanan  itu dan membuatnya sesuai dengan kehendak pemesan. Sebagai seorang florist dengan spesialis bunga buket dan bunga hiasan di meja Della harus kreatif menciptakan model-model baru agar ada alternatif pilihan yang disesuaikan dengan permintaan kliennya. Tidak hanya itu Della juga selalu merangkai bunga sesuai dengan karakter dan kesukaan penerima buket.

            “Selamat pagi. Boleh saya memesan buket?” seseorang menyapanya dari balik jendela ruang kerja. Della menoleh. Tidak biasanya tamu masuk ke wilayah kerjanya. Ke mana para petugas di depan sana? Pikir Della heran. Ia segera ke luar menemui tamu tersebut.

            “Apa yang bisa saya bantu, Pak? Mau memesan buket seperti apa? Untuk siapa?” Della menyambut ramah. Matanya mencari-cari petugas yang biasanya menerima tamu dan menuliskan pesanan. Tidak ada seorang pun di situ, kecuali petugas yang sedang merapikan pesanan bunga papan.

            “Untuk ibu saya. Beliau sedang sakit, dan saya ingin mengirimkan bunga kesukaannya,” sahut tamu yang berada di depannya. Della mengajak tamu tersebut berkeliling, menunjukkan contoh rangkaian bunga dan buket yang sudah jadi. Biasanya dia membuat stok lima sampai sepuluh contoh, yang sering kali diborong habis oleh para pelanggannya. Untunglah ini masih pagi, sehingga jumlah rangkaian bunga dan buket cukup lengkap.

            “Apakah beliau suka dengan bunga anggrek atau mawar?” Della bertanya lagi, karena kebiasaan orang memesan berpatokan pada dua jenis bunga ini, kecuali ada permintaan khusus. Pemuda itu memegang salah satu buket dengan kombinasi warna warni yang ceria. Della membuatnya untuk menyemarakkan suasana. Biasanya rangkaian bunga jenis itu dipesan untuk orang yang berulang tahun atau sedang merayakan suatu keberhasilan.

            “Mau saya tambahkan bunga lain, atau saya rangkaikan yang baru?” Della menawarkan. Pemuda itu diam sejenak kemudian menganggukkan kepala.

            “Buatkan saja bunga yang baru. Kalau tidak terlalu lama, akan saya tunggu,” jawabnya sambil menatap Della.

            “Tidak lama. Silakan duduk dulu,” Della segera memilih beberapa jenis bunga dengan warna warni yang sesuai dengan perkiraan usia ibu pemuda tersebut. Dia merangkai dengan sepenuh hati, seakan memberikan rangkaian bunga itu untuk orangtuanya sendiri. Tidak lama, rangkaian bunga yang dipesan sudah selesai. Della menemui pemuda itu.

            “Apakah begini cukup? Mau ditutup dengan plastik kaca, atau cukup begini saja?”

            “Wah, indah sekali. Tidak perlu ditutup plastik kaca, saya akan membawanya sendiri. Terima kasih, ya.”

Pemuda itu membayar sesuai harga yang telah ditentukan lalu pamit diiringi dengan pandangan Della. Dalam hati ia mengagumi pemuda yang begitu sayang kepada orangtuanya. Della merasa hatinya tergores. Dia tidak memiliki ibu lagi, bahkan dia tidak pernah tahu wajah ibunya seperti apa. Hanya selembar foto usang yang dimilikinya dan itulah yang mengikatnya dengan masa lalunya.

*

Pagi baru merekah hari itu. Di awal minggu biasanya suasana toko bunga tidak terlalu ramai. Hanya pelanggan kantor yang mengambil pesanan, sedangkan pesanan pribadi jarang. Entahlah, Della juga merasa heran. Apakah orang sakit atau ulang tahun menunda hari perayaannya?

“Selamat pagi… Bolehkah saya memesan bunga lagi?” Sebuah suara mengejutkan Della. Dia sudah mengenal pemuda yang menjadi pelanggan barunya.

“Pak Herlan, selamat pagi. Bunga apa yang ingin dipesan hari ini? Untuk ibu?” tanya Della sambil menyambut tamunya di teras toko yang sudah mulai dipenuhi dengan aneka rangkaian bunga. Mereka sudah mulai bekerja sejak subuh, jadi jam tujuh pagi sudah tersedia rangkaian bunga yang indah dan segar.

“Ya, untuk ibu saya. Beliau senang sekali melihat rangkaian bunga yang saya pesan sebelumnya. Hari ini beliau sudah boleh pulang ke rumah, jadi saya mau pesan dua macam rangkaian. Yang satu untuk di kamar tidur, satu lagi untuk di ruang tengah.”

“Baiklah. Apakah ukurannya mau sebesar ini, atau yang lebih besar?” Della menunjuk ke  arah rangkaian bunga dalam pot besar dan satu lagi berukuran sedang untuk diletakkan di kamar tidur.”

Herlam memilih ukuran bunga, membayar biayanya lalu menitipkan pesan, bahwa nanti bunga akan diambil oleh supirnya. Della mengangguk senang, pagi-pagi sudah ada rejeki mengalir ke tokonya. Ia melirik ke dalam, petugas administrasi melemparkan senyum lebar kepadanya. Biasanya setelah ini pesanan akan mulai masuk karena pintu rejeki sudah terbuka, begitu keyakinannya.

*

Setelah memesan rangkaian bunga beberapa kali, Herlan mengatakan bahwa mulai minggu depan dia tidak akan memesan bunga lagi. Della terkejut. Herlan dan ibunya adalah pelanggan yang baik dan tidak rewel. Mereka memberikan apresiasi dan juga rekomendasi kepada relasinya untuk memesan bunga di toko tempat Della bekerja. Dengan ragu-ragu Della mengirim pesan singkat kepada Herlan, menanyakan apakah ada layanan mereka yang salah atau kurang disukai. Dalam sekejap Herlan membalas pesan itu dengan kalimat pendek ,”Mama sudah meninggal, tidak perlu buket lagi.”

Della merasa terkejut sekaligus berduka. Walaupun ia belum pernah bertemu dengan Ibu Herawati, orangtua Herlan, tapi dia merasa sangat dekat dengan wanita itu. Setiap kali merangkai bunga pesanan Herlan, ia seakan berkomunikasi dengan orang yang akan menikmati hasil karyanya. Tidak jarang dia berbicara pelan, seperti berhadapan orangnya langsung. Kali ini dia ingin memberikan karyanya yang terakhir untuk wanita yang telah memberinya banyak rejeki dan jalan untuk mendapat pelanggan lebih banyak.

“Pak Herlan, bolehkah saya mengetahui di pemakaman mana Ibu Herawati dimakamkan?” Della mengirim pesan lagi. Kalau sudah terlambat mengirim bunga dukacita ke rumahnya, ia masih punya kesempatan untuk memperindah makam tempat wanita itu berbaring dalam keabadian.

Herlan menjawab tidak lama kemudian, lengkap dengan nama blok serta peta jalan ke sana. Della mencatat dengan cermat, dan berjanji akan segera membuat rangkaian bunga yang pasti disukai oleh pelanggannya itu.

*

Situasi di lokasi pemakaman sangat sepi. Cuaca mendung setelah hujan semalaman membuat suasana terasa hening dan hikmat. Della berjalan pelan, menyusuri blok demi blok mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Herlan. Dari kejauhan dilihatnya ada makam yang masih baru, tanpa bunga rangkaian di atasnya. Mungkin pemakaman sudah berlangsung beberapa hari dan sekarang sudah dibersihkan oleh petugas makam.

Dengan hikmat Della berlutut di sisi makam yang tanahnya masih basah. Ada sedikit sisa bunga tabur yang telah mengering. Della membaca nama di papan petunjuk Herawati binti Hasnan. Benar, ini adalah makam wanita yang banyak menolongnya. Mendadak hatinya terasa ngelangut, terharu membayangkan wajah wanita itu. Bagaimanakah rupanya? Bila melihat wajah Herlan putranya, tentulah wanita ini juga memiliki paras yang menawan. Sayangnya ia tidak pernah melihat foto ataupun melihatnya.

Setelah meletakkan rangkaian bunga dan berdoa, Della bangkit dan meninggalkan lingkungan makam. Rasanya aneh sekali, seperti ia meninggalkan seseorang yang dicintainya. Apakah begini rasanya bila kita kehilangan orangtua? Pikir Della sedih. Dia tidak pernah tahu kapan orangtuanya meninggal. Sepanjang hidupnya dia hanya sendiri, diasuh oleh keluarga ibunya dan kemudian dititipkan di panti asuhan, sehingga belum pernah merasakan kehilangan orangtua.

*

Della sedang mengatur pesanan bunga yang harus dikirim pagi itu ketika dilihatnya Herlan datang ke tokonya. Ia segera keluar menemui tamunya. Apakah Herlan akan memesan bunga lagi? Dilihatnya wajah pemuda itu tampak murung. Mungkin rasa sedih dan dukacitanya masih bergelayut. Siapa yang tahu isi hati orang?

“Selamat pagi, Della.”

“Selamat pagi, Pak Herlan. Apakah bapak mau pesan bunga lagi?” Tanya Della berhati-hati. Dia tidak ingin terlihat rakus pesanan, tapi sebagai pelanggan ia harus melayani Herlan dengan sebaik-baiknya.

Herlan diam beberapa saat, lalu memandang berkeliling ke arah rangkaian bunga yang sudah siap dikirim. Ia menggelengkan kepala, kemudian menatap Della.

“Kamu yang mengirimkan bunga untuk makam Mama?” Herlan bertanya lembut. Nada suaranya sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Della mengangguk, hatinya diliputi kekuatiran. Dia tidak ingin dikatakan lancang, tapi sejujurnya dari lubuk hatinya ia ingin menyampaikan rasa terima kasih. Hanya membuat rangkaian bunga yang dapat dilakukannya, dan  itu sudah atas ijin atasannya.

“Iya, Pak Herlan. Mohon maaf bila Pak Herlan tidak berkenan,” sahut Della dengan sopan. Ia menatap pasrah ke arah pemuda itu, bahkan bila Herlan mengamuk ia akan menerimanya.

Pemuda itu tersenyum. Matanya bercahaya sekarang. Wajahnya yang semula murung seperti langit mendung, sekarang terlihat memancarkan semangat.

“Aku tidak marah, Della. Mengapa harus marah? Aku justru ingin mengucapkan terima kasih atas perhatian kamu terhadap Mama. Saat tidak ada lagi orang yang peduli kepada beliau, kamulah yang memberikan perhatian yang tulus. Mungkin Mama tidak kenal kamu, tapi aku yakin Mama merasakan ketulusan yang kamu berikan.”

Della menundukkan kepala. Matanya mendadak terasa panas. Tidak disangkanya bahwa orang seperti Herlan bisa bersikap lemah lembut dan sopan kepadanya. Kebanyakan pelanggan hanya melihat dia sebagai florist, seorang tukang penata bunga. Tidak lebih. Herlan berbeda.

“Alhamdulilllah…saya melakukannya karena merasa mendapat perhatian dan penghargaan dari beliau atas karya saya. Itu sangat menguatkan hati saya. Sekarang banyak pelanggan baru yang datang atas rekomendasi Ibu Herawati. Mereka bahkan melontarkan pujian dan penghargaan atas setiap karya saya yang ada di rumahnya.”

“Della…kamu orang baik dan tulus. Aku dan Mama melihatnya dari hasil karyamu. Setiap kali tidak pernah sama, selalu ada sentuhan pribadi seperti pesan khusus untuk Mama. Mulai sekarang, maukah kamu membuatkan rangkaian bunga buket setiap minggu untuk makam Mama? Aku akan mengambilnya ke mari.”

Della tertegun. Dia tidak menduga, bahwa Herlan bukannya marah, malah memberikan order untuk makam ibunya. Entah sampai berapa lama ini akan berlangsung. Yang jelas, selama Herlan merasa puas, maka pesanan pasti akan mengalir. Dengan wajah sumringah Della menganggukkan kepala. Ia pasti akan membuat rangkaian bunga dengan tema berbeda setiap minggu.

*

Minggu demi minggu berganti. Waktu seakan mengalir seperti air sungai di pegunungan. Terasa begitu cepat. Hubungan Herlan dan Della juga demikian. Dari sekedar memesan bunga setiap minggu, mereka semakin sering mengobrol dan berdiskusi. Herlan mengagumi daya kreasi Della yang seakan tidak pernah terputus. Atasannya mengakui hal itu. Tanpa Della, mungkin toko bunganya akan sama saja dengan toko bunga lain, tidak memiliki ciri khas. Tangan Della selalu lincah menari di antara bunga-bunga yang sedang dirangkainya.

“Della, maukah kamu menemani aku besok ke makam Mama?” tanya Herlan di suatu pagi. Della terkejut. Selama ini mereka hanya mengobrol di toko dan sesekali makan bakso di warung dekat toko bunga itu ketika pesanan Herlan telah selesai. Namun, pergi ke makam bersama pemuda itu tidak pernah terlintas di dalam pikirannya. Apa urusannya? Dia hanya penyedia jasa merangkai bunga dan Herlan seorang pelanggannya. Apakah Herlan mau meminta aku menghias makam ibunya? Pikir Della sebelum memberikan jawaban.

“Besok hari ulang tahun Mama. Aku ingin memberikan buket yang indah untuk beliau. Hanya bunga dan doa yang bisa kuberikan. Selama ini aku sibuk sendiri dengan pekerjaan dan karirku. Aku seakan mengabaikan Mama. Ketika Mama sakit beberapa waktu lalu, aku baru menyadari bahwa kehadiran Mama dalam hidupku sangat penting. Beliau yang selalu mengingatkan aku untuk banyak hal. Dari hal remeh temeh sampai hal penting, Mama mengingatkan dengan lembut. Bahkan di sela waktu istirahatnya Mama masih berusaha memasak makanan kesukaanku.” Suara Herlan seperti tercekat. Della menatap pemuda itu dengan penuh haru. Dia ikut merasakan dan memahami betapa sedihnya bila tidak memiliki seorang ibu lagi. Beruntung Herlan masih punya kesempatan untuk berbakti dan menemani ibunya sampai akhir hayatnya. Sedangkan dia?

“Baik, Pak Herlan. Akan saya buat rangkaian yang terbaik. Jam berapa besok kita akan ke makam? Saya minta ijin dulu kepada Pak Bos, ya?”

“Sepagi mungkin, agar masih sepi dan nyaman di sana. Oya, satu lagi. Berhenti menyebutku Pak Herlan. Aku merasa seperti seorang lelaki tua. Sebut saja namaku, atau kalau kamu sungkan boleh panggil Kakak atau Abang, apa pun yang kamu rasa nyaman.”

Della melongo. Tidak boleh menyebut Pak Herlan lagi?

*

Angin pagi bertiup pelahan. Della berjalan pelan mengikuti langkah Herlan. Pemuda itu membawa sebuah foto keluarga. Ada Herlan, ibu, ayah dan satu kakak perempuannya. Kata Herlan, kakak perempuannya sekarang menetap di luar negeri. Itu yang membuat ibunya sedih karena menahan rindu. Apa boleh buat, karir dan keluarga suaminya ada di negeri orang.

“Ibumu cantik. Ayahmu juga keren.” Hanya itu yang dapat diucapkan Della ketika Herlan menunjukkan foto ibu dan ayahnya. Tidak heran pemuda itu mewarisi kegantengan ayahnya. Sayang, kedua orangtuanya sudah meninggal sehingga Herlan sekarang tinggal sendirian di rumahnya yang lumayan besar. Kakaknya tidak mau pulang ke Indonesia, dan menyuruh adiknya menjual rumah itu bila ia takut tinggal di sana. Herlan bilang, ia masih mempertimbangkan beberapa hal sebelum membuat keputusan.

Herlan berlutut di tepi makam, membersihkan daun-daun yang berserakan di atas rerumputan yang sekarang tumbuh subur dan terawat. Della mengambil tempat di sisinya, lalu meletakkan karangan bunga di bagian kepala makam.

“Ibu Hera, kami datang. Ibu baik-baik saja, kan?” bisik Della seakan berbicara dengan wanita itu. Herlan terkejut. Sikap polos dan spontan Della  sudah lama membuatnya tertarik, tapi dia tidak menyangka bahwa gadis itu akan berbicara dengan ibunya seakan-akan mereka sedang berkunjung ke rumah.

Dengan lembut ia meraih telapak tangan gadis itu lalu menggenggamnya. Ia merasa tangan kasar gadis itu karena terbiasa bekerja keras dengan berbagai alat dan tangkai bunga yang setiap saat menusuknya. Pelan-pelan ia mengangkat tangan gadis itu lalu menciumnya lembut. Della terkejut, tapi ia tidak berani menarik tangannya. Mereka berpandangan sekarang. Mendadak Della merasa jantungnya berdetak kencang dan darahnya mengalir lebih cepat. Ia merasa gugup dan tidak tahu harus melakukan apa.

“Della, bilang sama Mama, bahwa aku menggodamu,” bisik Herlan lembut. Della mengerutkan tubuhnya. Dia kuatir bahwa Herlan mengalami halusinasi atau apa. Tadi dia sendiri berbicara dengan Ibu Herawati karena kebiasaannya berkomunikasi dengan siapa saja.

“Aku…apa? Mengapa harus aku yang mengatakannya? Bukankah kamu yang melakukannya?” Della berkata gugup. Dia menatap ke dalam mata Herlan. Tidak ada tanda-tanda pemuda itu akan menyakitinya atau sedang berhalusinasi. Yang dilihatnya hanya kehangatan dan kelembutan.

“Baiklah…aku akan bilang, tapi kamu harus setuju, ya?” Mata Herlan menatap tajam, meluluhkan hati Della. Tanpa sadar ia mengangguk.

“Ma…ini kami datang. Aku dan Della, gadis baik hati yang menyayangi Mama. Aku ingin minta restu Mama, aku akan melamar Della untuk menjadi pendampingku. Tadi katanya dia sudah setuju. Boleh, ya Ma?”

Kali ini Della benar-benar terperanjat. Dia mau menarik tangannya dan menjauhi pemuda itu, tapi dia kalah cepat. Herlan merangkul dan menarik ke dalam pelukannya.

“Apa…kenapa kamu minta restu Mama? Apa yang sudah aku setujui?” Della bertanya panik. Apakah dia tidak salah dengar? Herlan mau melamarnya? Melamar menjadi pegawai di toko bunga?

“Della…dengarkan aku, ini serius. Aku tidak main-main ketika minta restu sama Mama. Aku hanya menjalankan amanat beliau. Pesannya sebelum meninggal adalah agar aku segera mencari pendampingku, yang hormat dan sayang kepada Mama, apa pun keadaannya. Sejak awal kamu membuat rangkaian bunga untuk Mama, kami sudah menilai bahwa kamu bukan florist biasa. Kamu memiliki passion dan cinta untuk setiap karya yang kamu lahirkan. Kami merasakan, terutama Mama, bahwa kamu selalu berkomunikasi melalui bunga-bunga itu. Awalnya aku tidak percaya apa yang Mama katakan, tapi sekarang aku percaya bahwa kamu bisa berkomunikasi kepada apa saja dengan berbagai cara.”

“Jadi, aku harus bagaimana?” Della mengerutkan tubuhnya. Dia belum siap menerima permintaan Herlan, apa pun alasan pemuda itu. Siapa dirinya sehingga berani menerima lamaran Herlan? Pungguk boleh merindukan bulan, tapi dia sudah lama tidak berani merindukan siapa-siapa.

“Pegang tanganku, Della. Aku minta, atas restu Mama, maukah kamu menjadi istriku?” Herlan berkata lembut. Della merasa dadanya bergemuruh, seluruh tubuhnya seperti terbakar, matanya terasa panas dan basah. Dengan ragu-ragu ia menganggukkan kepalanya.

Herlan merengkuh Della ke dalam pelukannya. Dia tahu, bahwa gadis itu sebatang kara di dunia ini. Dia tidak punya keluarga, tidak punya rumah, tidak punya pelindung. Sekarang dia akan punya rumah, akan punya keluarga, akan ada seseorang yang  melindungi dan menemaninya. Herlan yang akan memberikan itu semua kepadanya.**

Bintaro, 3 Desember 2023

**

Cerita Misteri _ Masa Lalu Amelia

 

#episode5

#cermis

 

Dear Sahabats,

 

Cerita tentang Perempuan di Kedai Kopi ternyata membuat saya terobsesi. Setelah 4 episode ceritanya, saya jadi kesulitan untuk menghentikan ceritanya. Namun, sisi mana lagi yang harus diulik? Akhirnya saya menulis tentang masa lalu Amelia dengan lebih gamblang. Ini juga jadi beranak pinak. Saya terpaksa membuatnya menjadi beberapa bagian.

 

Ini adalah episode ke 5 tentang masa lalu Amelia. Mungkin tidak terlalu  menggigit seperti yang sebelumnya, tapi menurut saya ini penting untuk memahami cerita awal dan kelanjutannya.

 

Begitu dulu, ya spillnya…semoga berkenan dan tetap penasaran.

 

Bintaro, 21 Desember 2023

Salam hangat,

 

Ietje S. Guntur

 

*

 

#Cerpen

 

 

RAHASIA MASA LALU AMELIA

Oleh : Ietje S. Guntur

*

Serial kisah misteri :

Episode 1 : PEREMPUAN DI KEDAI KOPI

Episode 2 : MISTERI AROMA KOPI

Episode 3 : KUCING HITAM MEMBERI TANDA

Episode 4 : PENEMUAN DI VILLA SEGITIGA

 

(Cerita episode sebelumnya) :

Tanpa banyak berbicara mereka meninggalkan lokasi villa. Semua berjalan bergegas agar segera dapat pergi dari tempat itu. Yodi yang masih penasaran menoleh ke belakang. Tampak villa yang tadi suram seperti bersinar dari dalam. Tak mau tergoda lagi oleh pemandangan yang membelenggu ingatannya, Yodi segera melangkah dengan cepat. Sandy berlari lincah di depannya, mengikuti peti mati yang diusung oleh tim forensik. Sesekali dia mengeong pelan, lalu berhenti menatap Yodi.

“Amelia sudah ditemukan, Sandy. Dia sudah tenang sekarang. Kita pulang, ya?”

Kucing itu mengeong sambil menggosok-gosokkan badannya. David yang berusaha mengelus Sandy, ditabok oleh kucing itu dan memandangnya dengan wajah cemberut. Yodi tersenyum. Sandy memang posesif terhadapnya dan memusuhi siapa saja yang mendekati.

“Iya, deh…aku nggak mengganggu lagi. Kita antar Amelia ke rumahsakit, ya? Nanti kita antar dia ke rumah keabadiannya. Kamu mau ikut?” David berusaha membujuk Sandy. Kucing hitam itu melompat ke pelukan Yodi, lalu mengeong dan menjilat wajah tuannya. Ia melirik tajam ke arah David, seakan mengejeknya.

“Kata Sandy, dia mau ikut. Dia akan mengajak Sandra juga.” Ujar Yodi sambil melirik ke arah David yang merah padam wajahnya.

“Kucing sok tahu, loe…ih!” sungut David sambil mempercepat langkah menuju mobilnya.

“Meoooooongg….” Hanya itu jawaban Sandy sambil mempererat pelukannya.**

*-*

 

#Cerpen

#Episode 5

 

RAHASIA MASA  LALU  AMELIA

Oleh : Ietje S. Guntur

*

            Suasana di area pemakaman sangat sepi. Angin pagi yang lembab dan mengandung embun berembus semilir, membawa aroma rumput dan bunga yang seakan datang dari kejauhan. Hanya ada Ardin, Johan, Arkan dan beberapa kerabatnya serta petugas pemakaman. Yodi, Sandy si kucing hitam, Ravi, David dan Sandra adalah orang luar keluarga yang turut dalam prosesi itu. Semula keluarga akan memakamkan Amelia di Kawasan Villa Segitiga, namun karena daerah itu diperkirakan masih rawan bencana, maka mereka memutuskan untuk memilih pemakaman umum yang cukup aman dan terjaga. Seorang pemuka agama mengucapkan doa untuk Amelia diikuti oleh para hadirin.

            Ardin menatap gundukan tanah tempat adiknya berbaring. Beberapa rangkaian bunga terlihat menghiasi makam yang baru itu dan sepotong kayu penanda dengan nama dan tanggal lahir almarhumah tertulis jelas. Yang masih menjadi perdebatan adalah tanggal kematiannya, sehingga mereka memutuskan untuk dikosongkan saja. Johan menunggu keputusan dari pihak forensik yang akan memastikan saat kematian omanya, apakah pada saat ditemukan dulu, atau ada perkiraan waktu yang lain.

            Yodi tidak dapat menahan keharuannya. Setelah perjuangan yang cukup berat selama beberapa bulan, akhirnya Amelia dapat beristirahat dengan tenang sesuai harapannya. Ia berharap setelah ini tidak ada gangguan lagi dari pihak suami Amelia maupun orang yang disuruhnya untuk mencari perempuan itu. Nama suami Amelia telah dilaporkan oleh Ardin ke pihak kepolisian Indonesia, di mana pun dia berada sekarang, hidup atau sudah mati. Ia tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang keji.

            Tim forensik menemukan tulang belikat yang pecah karena peluru yang ditembak dari jarak dekat, juga beberapa tulang rusuk, tulang tangan dan kaki yang mengalami kerusakan karena perlakuan dengan benda keras. Yodi tidak dapat membayangkan betapa sakitnya dan penderitaan yang dialami oleh Amelia. Pantas saja dalam setiap kedatangannya ke Kedai Kopi ia selalu menunjukkan wajah muram seakan sedang menahan sakit. Ia juga selalu menutup tubuhnya dengan jaket yang tebal.

Yang menjadi tanda tanya Yodi, apakah noda darah yang dilihatnya di baju bagian punggung Amelia merupakan bukti bahwa dia ditembak? Apakah kematiannya terjadi saat itu atau Reno berhasil mengejarnya dan menyiksanya lagi? Bagaimana dengan jasad Amelia yang ditemukan di sungai beberapa waktu kemudian? Sungguh kejadian yang sangat tidak masuk akal, yang dilakukan oleh seorang suami terhadap istri yang konon dicintainya. Apa tujuan Reno menyakiti dan menyiksa istrinya? Pikiran Yodi berputar seperti pusaran angin yang tidak tentu arah. Ia yakin, suatu saat kenyataan sebenarnya akan terungkap.

            Ternyata kekejaman Reno sudah dikenal oleh warga sekitar. Beberapa orang warga yang berusaha mengintai saat terdengar jeritan menyayat di malam hari melihat dengan mata kepala sendiri saat Reno menyiksa istrinya. Mereka hanya bisa membantu bila Reno dan komplotannya pergi, tapi tidak dapat melepaskannya karena Amelia diikat dengan rantai yang sangat kuat. Tidak ada yang berani melaporkan Reno ke pihak berwajib karena pria itu sudah mengancam dan menakuti warga. Ketika terjadi bencana alam tanah longsor, Reno menghilang dan kemudian warga juga banyak yang pindah. Kejadian itu seakan ikut terkubur dan sedikit demi sedikit dilupakan orang. Hanya Pak Ridwan dan beberapa warga yang bertahan dan menyimpan rahasia itu sampai bertahun-tahun kemudian.

*

            David segera mengurus pembelian tanah di kawasan lembah tempat Villa Segitiga berada. Mereka belum merencanakan secara detil peruntukannya, namun seperti rencana semula akan dimanfaatkan untuk menanam kopi. Sedangkan bangunan Villa Segitiga sudah tidak layak untuk ditempati, sehingga akan dipertimbangkan untuk alternatif lain atau dibongkar. Walaupun ada rasa sayang karena banyak kenangan indah di tempat itu, tapi luka-luka dan kenangan pahit tentang Amelia membuat keluarga Megantara memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan kenangannya selama-lamanya.

Keluarga Ardin Megantara sangat berterimakasih karena David dan Yodi telah mau bersusah payah mengurus pajak bumi dan bangunan yang sudah terlantar selama berpuluh tahun. Mereka menawarkan harga yang murah sekali, jauh di bawah harga NJOP daerah setempat. Bagi mereka bukan soal uang yang  jadi tujuan, yang penting bagi mereka ada orang yang menjaga warisan keluarga dan memberdayakannya dengan baik. Itu adalah salah satu poin yang terdapat dalam surat di amplop yang diserahkan Amelia kepada Yodi, untuk diteruskan kepada abangnya.

            Sampai saat ini Yodi belum mempercayai apa yang dialaminya. Bagaimana Amelia, yang seharusnya sudah meninggal, masih dapat memberikan amplop berisi pesan-pesan kepadanya. Dia nyata, bahkan ketika Yodi menatap wajahnya, tidak ada tanda-tanda dia bukan seseorang yang sesungguhnya. Di mana selama ini amplop itu disimpan atau disembunyikan? Dan anehnya, bapak-bapak yang datang ke kedainya kemudian juga mengincar pesan di dalam amplop itu. Apa maksudnya?

            Dari pembicaraan sekilas dengan Ardin, Yodi menangkap kesan, bahwa Reno mengincar harta warisan Tuan Megantara yang telah diberikan kepada Amelia. Bukan sekedar tanah dan villa di lembah, tapi masih banyak lagi. Saham-saham di beberapa perusahaan, surat berharga, bahkan kepemilikan sebuah tambang batubara yang  disembunyikan. Reno mengincar itu semua dibantu oleh orang-orang kepercayaan yang setia kepadanya tanpa batas. Mereka bukan hanya mencari Amelia dan mengancamnya saat masih hidup, tetapi dalam perjalanan kematiannya pun mereka tetap mencari di mana pun wanita itu berada.

            Kepastian akan waktu kematian Amelia akan sangat membantu untuk membuat akte kematiannya secara resmi sehingga semua warisan atas nama Amelia dapat dialihkan kepada pewarisnya. Reno dengan licik telah membuat akte kematian palsu, namun dia tidak berhasil mendapatkan warisan yang diinginkannya. Itu menimbulkan kemarahannya yang kemudian bersumpah akan mencari Amelia selamanya.

            Tuan Megantara tidak berumur panjang. Ia meninggal dunia tidak lama setelah pernikahan Amelia, kemudian istrinya kembali ke negaranya bersama anak-anaknya. Hanya Amelia yang ditinggal di Indonesia karena mereka beranggapan, bahwa Amelia sudah berbahagia bersama suaminya. Awalnya Reno memang tampak baik dan menyintai Amelia, namun ketamakannya telah membutakan hati. Setelah tidak ada lagi keluarga yang melindunginya, mulailah Reno memperlihatkan sifat asli dan motivasi menikahi putri kesayangan keluarga Megantara.

            Airmata Ardin nyaris tidak berhenti mengalir saat menceritakan penggalan-penggalan kisah kehidupan Amelia yang diketahuinya. Bagaimana dia tidak sedih dan merasa hatinya hancur karena tidak mengetahui penderitaan adik kesayangannya. Amelia beberapa kali menyuratinya, tapi tidak terlihat bahwa ia menderita sehingga keluarganya mengira ia baik-baik saja. Beberapa kali kunjungan keluarga ke Indonesia, Amelia juga menyambut dengan gembira. Ketika Ardin menanyakan, mengapa adiknya belum juga memiliki keturunan Amelia hanya berkilah bahwa dia masih ingin berbulan madu dengan Reno.

            “Mungkin saat itu Amelia sudah sakit dan tubuhnya tidak bisa mengandung seorang bayi. Atau, Reno memang tidak pernah memperlakukan selayaknya seorang istri,” ujar Ardin dengan mata menerawang dan bibir bergetar menahan kesedihan.

            “Apakah penampilan Amelia memang selalu tampak ringkih dan pucat?” Tanya Yodi hati-hati, berusaha membayangkan Amelia yang datang ke kedai kopinya.  Ardin menggelengkan kepala, ia meremas-remas tangannya seakan menyimpan rasa sakit yang menyengat.

            “Amel sangat periang. Ia menjadi bidadari di dalam keluarga kami. Saat kami mengajaknya untuk pindah ke luar negeri, ia menolak dengan alasan ingin menjaga makam ayah kami. Sungguh mulia hatinya dan menunjukkan kedekatannya dengan Papi.” Sekarang Ardin tidak dapat menahan diri, ia menangis sesenggukan hingga suaranya serak. Johan segera merangkulnya, menenangkan kakeknya.

            “Hanya sekali ia mengunjungi kami saat berlibur ke Eropa. Saat itu musim gugur dan suhu di Jerman memang sudah lebih dingin menjelang akhir tahun. Amel selalu menggunakan baju yang tebal sehingga kami tidak dapat melihat kondisi tubuhnya yang sebenarnya. Dia bahkan menolak tidur bersama Mami seperti kebiasaannya semula. Lagi-lagi dia beralasan demi menjaga perasaan Reno. Padahal saat berlibur itu Reno sering pergi entah kemana tanpa membawa Amel.”

*

            Yodi sedang merapikan Kedai Kopi yang sekarang sedang diperluas ke bangunan di samping kedai lama. Pemiliknya memberikan harga yang kompetitif karena akan pindah ke lain kota. Sungguh beruntung, sehingga Yodi dan David dapat mewujudkan satu demi satu impian mereka. Yodi ingin agar kedai kopi ini tidak sekedar tempat nongkrong dan menikmati kopi, tapi juga sebagai sarana edukasi dan tempat pertemuan yang bermanfaat.

Seorang sahabatnya menyarankan untuk membuat ruang pustaka dan pojok baca, hal itu sangat sesuai dengan keinginan David. Tidak hanya itu, David sudah membawa pianonya ke Kedai Kopi dengan alasan waktunya lebih banyak di kedai dari pada di rumah. Selain untuk menyalurkan hobinya di bidang musik, piano itu juga dapat dipergunakan bila ada pengunjung yang ingin mendengarkan live music. Bersama Yodi yang bisa bermain piano dan biola, mereka dapat menghibur tamu-tamu pada acara khusus. Sementara itu, Ravi sudah bisa diandalkan menjadi barista untuk membantu Yodi dan sudah cukup trampil untuk membuat menu  standar. Kini mereka tinggal mematangkan konsepnya dengan bantuan Sandra yang semakin sering terlibat dalam beberapa program kerja kedai kopi.

            “Selamat pagi…apakah sudah ada orang?” Suara Sandra yang ceria dan hangat memecah keheningan pagi. Ia sudah biasa datang ke kedai kopi, dan sekarang memilih masuk dari pintu belakang karena tanda Closed masih tergantung di depan . Yodi menoleh dan tersenyum melihat gadis itu.

            “Selamat pagi, tumben jam segini sudah datang. Mau sarapan apa?” Yodi menawarkan. Dia sedang menata beberapa potong pastry yang baru diantar oleh pihak pemasok langganannya.

            “Seperti biasa, kopi tanpa gula dan roti bakar polos. Eh, David belum datang, ya?”

            “Belum, mungkin agak siang. Dia ada keperluan di luar. Janji jam berapa dengan dia?”

            “Nggak janji jamnya sih. Aku sengaja ke sini pagi-pagi biar bisa kerja. Kalau di rumah sendirian suka suntuk dan mengantuk. Nanti kalau David datang, aku mau memberikan konsep terbaru untuk kerja sama berikut.”

            “Hm…semoga lancar, ya. Aku juga mau menambah staf. Kasihan Ravi sendirian karena  sering kutinggal. Saat akhir pekan, benar-benar repot bila tidak ada teman. Aku sudah menambah anak magang untuk pramusaji sehingga Ravi bisa fokus menjadi barista saja.”

            “Wah, keren. Aku lihat tamu-tamu juga semakin banyak, ya. Eh, ngomong-ngomong, kemana nih kesayanganku si Sandy?”

            “Biasanya dia di teras depan atau di belakang. Dia selalu menunggu Ravi sekarang, karena setiap hari sudah bersamaku di rumah. Mungkin dia bosan hanya melihat wajahku saja,” Yodi tersenyum , lalu mencari si Kucing Hitam yang sekarang menjadi maskot kedai kopi.

            “Nah, itu dia. Manja benar ke Ravi, ya? Mungkin karena si Bocah sayang sama hewan, jadi si Sandy juga sayang sama dia.” Sandra menyambut kucing hitam itu yang langsung melompat ke pangkuannya sambil mendengkur manja. Ravi masih sering disebut Bocah oleh Yodi, David dan Sandra karena mereka menganggapnya sebagai adik kesayangan. Hal itu menyenangkan Ravi karena dia merasa sebagai bagian dari sebuah keluarga, bukan sekedar pekerja.

            Ravi masuk mengikuti Sandy lalu menyapa Sandra. Sekarang hampir setiap hari gadis itu mampir ke Kedai Kopi. Selain untuk membahas masalah bisnis dan program kerja, ia juga terlihat sedang menjalin hubungan khusus dengan David. Sebagai sesama pencinta kucing, mereka seperti tidak pernah kehilangan topik pembicaraan. Ravi pernah nyeletuk begini, “Pagi-pagi sudah ngomongin kucing, kayak nggak ada pekerjaan lain yang lebih penting.” Dia lalu tertawa kecil di belakang, mengingatkan David pada kejadian beberapa bulan lalu saat kedatangan si Kucing Hitam ke Kedai Kopi.

            David datang tidak lama kemudian saat Sandra sedang menyesap kopinya. Pemuda itu melirik sesaat, lalu berbisik,“ Jangan duduk di sini. Pindah ke sebelah sana saja.”

            Sandra mendelik, tempat itu adalah meja favoritnya. “Kenapa sih?” Tanya Sandra dengan wajah heran.

“Sstt…sudah, ke sana saja. Aku selalu membayangkan Amelia kalau ada orang yang duduk di sini.” Jawab David, yang membuat Sandra bergegas berdiri dan pindah tempat duduk. Ia mengerutkan badan dan bergidik ngeri. Tentu ia tidak mau disamakan dengan wanita misterius itu.

“Benarkah Amel masih suka memperlihatkan diri?” Bisik Sandar sambil menatap David. Beberapa kali ia merasa seakan ada seseorang yang memperhatikannya bila ia sedang duduk di meja dekat jendela, yang kata David tempat favorit Amelia. David mengangkat bahu.

“Tidak secara nyata, tapi sesekali ada aroma kopi yang menguar pada saat kedai akan tutup di malam hari,” David menjawab pelan. Dia memang kurang percaya dengan hal-hal yang berbau mistik atau misteri, tapi kalau dia mengalami sendiri? Bila Yodi tidak bertugas malam, hanya dia bersama Ravi, aroma itu hampir selalu tercium. Paling sering terasa di dekat meja favorit Amelia atau di dekat piano. David sudah berniat menggeser posisi piano itu agar terlihat dari meja bar layanan, tapi Yodi bilang tempat di pojok tersembunyi itu lebih bagus. Akustiknya tepat, sehingga suara dapat menyebar rata hampir ke seluruh area kedai kopi yang sekarang semakin luas.

“Hmm…ngomong-ngomong, Yodi suka main piano?” bisik Sandra mengalihkan perhatian. Ia tidak ingin membahas tentang Amelia dan aroma kopi lagi karena membuatnya tidak nyaman. David tersenyum, mengangguk.

“Dia malah bukan sekedar bermain piano dan biola. Dia suka bikin lagu. Belakangan aku melihatnya membuat coret-coretan partitur entah untuk apa. Jangan-jangan mau bikin lagu buat Amelia.”

“Ih…serem, ah. Ntar Yodi main musik lagi di makam Amelia. Dia kan agak berseni, kadang jalan pemikirannya aneh.” Celetuk Sandra sambil melirik ke arah bar, tepat pada saat Yodi juga sedang menatap ke arah mereka. Mau tidak mau Sandra melontarkan senyumannya. Tiba-tiba Yodi mendatangi meja Sandra.

“Tadi ngomongin aku, ya? Memangnya kenapa kalau aku bikin lagu buat Amelia? Dia sangat inspiratif, lho. Ntar waktu seratus hari pemakamannya, karena aku nggak tahu kapan dia meninggal, aku mau membawakan lagu khusus untuknya. Mudah-mudahan bisa segera selesai lagunya minggu ini.” Yodi tersenyum hangat. Sandra menatap dengan wajah cemas.

“Iya…iya…bikin deh. Biar Amelia senang dan nggak mengganggu kita lagi. Kayaknya dia masih betah berkeliaran di sini. Kadang aku masih mencium aroma kopi susu kesukaannya pada saat mau tutup kedai,” David memberi respons cepat. Yodi menatap sahabatnya.

“Hmm…mungkin dia merasa home sweet home di sini,” Yodi mengerlingkan matanya.

“Maksud kamu? Dia mau menghantui tempat ini?” Bisik Sandra dengan wajah pucat. David menepuk punggung tangannya, menenangkan.

“Tidak menghantui, Sayang. Dia nyata, bukan hantu.” David menatap lembut gadis di depannya, membuat wajah Sandra bersemu merah. Yodi tersenyum penuh arti, melirik sahabatnya. Bisa-bisanya David mengambil kesempatan.

“Yang jelas, siapa pun dia, apa pun wujudnya, dia tidak mengganggu kita. Mungkin dia butuh sebuah rumah untuk jiwanya. Dia sekedar ingin mampir di sini. Biar sajalah. Aku menyukainya.” Yodi tersenyum kepada kedua sahabatnya yang tercengang mendengar pernyataannya.

“Kamu menyukainya?” David dan Sandra berseru berbarengan.

“Memangnya masalah buat kalian?” Yodi menatap keduanya, lalu melenggang pergi, kembali ke posisi di balik meja bar dan memulai tugasnya.**

 

(Bersambung - Episode 6)

Bintaro, 21 Desember 2023

Ietje S. Guntur

#ceritamisteri

Ilustrasi foto diunduh dari Pinterest.

Sunday, September 10, 2023

Cinta Belang Tiga

 

#Cerpen

 

CINTA BELANG TIGA

Oleh : Ietje S. Guntur

 

            Ariana sedang membereskan barang-barang yang baru dikirim dari rumahnya yang lama.. Sejak ayahnya meninggal ia harus merubah banyak hal di dalam kehidupannya. Semula ia hanya menyewa sebuah kamar kos, dan pulang ke rumah setiap akhir pekan. Kini ia memutuskan tinggal bersama ibunya lagi dan menempati rumah yang lebih kecil di kawasan yang lebih dekat jaraknya dari kantornya . Tiba-tiba seekor kucing belang tiga masuk ke ruangan, mengeong pelan seakan minta perhatian. Ariana menoleh. Perut kucing itu tampak besar dan berat. Ariana kasihan melihatnya.

            “Bu, ada stok makanan di kulkas?” Tanya Ariana ketika melihat ibunya sedang berada di dapur. Kucing itu mengikutinya, seakan tahu akan diberi makanan.

            “Kucing siapa itu?” Ibunya balas bertanya.

            “Nggak tahu, Bu. Mungkin dia lapar. Kita kasih makan sedikit deh. Kasihan, sepertinya diia kelaparan.”

            “Ibu baru lihat kucing ini ke mari. Dari kemarin tidak ada. Kok dia mengikuti kamu, apa dipikirnya ini rumahnya?”

            “Boleh jadi ini kucing peninggalan penghuni lama, ya Bu. Ya, sudahlah biar saja dia di sini, bisa menemani kita dan mungkin sekalian menangkap tikus.”

            “Iya, bisa jadi teman ibu kalau kamu sedang pergi kerja. Ibu belum sempat bepergian dan berkenalan dengan tetangga kiri kanan. Hanya tetangga depan kemarin menyapa sekilas.”

            Ariana mengambil sepotong ikan goreng sisa makan siang yang disimpannya dalam wadah plastik di kulkas. Ia menaruh potongan ikan itu di piring bekas kemasan makanan lalu membiarkan si Kucing menyantapnya. Ternyata kucing itu suka dengan ikan goreng, dan dalam sekejap sudah habis disantapnya, kecuali beberapa helai duri yang tertinggal. Ariana tersenyum melihat kucing itu membaringkan tubuh di dekat kakinya.

            “Bagus bulunya, Bu. Kelihatannya ini kucing betina. Perutnya cukup besar, kemungkinan besar dia hamil dan segera memiliki anak. Besok aku belikan makanan kucing deh, ada toko di jalan raya yang menjual makanan dan keperluan hewan. Ibu nggak keberatan kalau kita memeliharanya kan?” Ariana mengajuk ibunya. Selama ini mereka tidak memelihara hewan apa pun, karena ayahnya alergi bulu kucing.

            “Wah, ibu malah senang sekali. Nanti ibu carikan kardus bekas dan alas untuk tidurnya. Kita taruh di teras saja, di bawah atap carport. Eh, siapa namanya, ya? Masa dipanggil Pus Pus saja? Nggak kreatif banget.” Ibunya tersenyum.

            “Iya…mesti ada namanya. Berhubung dia kucing betina dan bulunya belang tiga, kita kasih nama si Beti saja. Belang Tiga, gampang.” Ariana tertawa kecil. Kucing belang tiga yang akhirnya mendapat nama Beti itu mengeong lembut, seakan menerima namanya sebagai panggilan.

*

            Tanpa terasa sudah beberapa hari si Beti betah di rumah Ariana. Dia selalu mengantarkan gadis itu saat berangkat ke kantor dengan sepeda motor, dan menyambutnya di teras ketika mendengar suara motor mendekati halaman. Ini seakan menjadi ritual mereka berdua. Beti juga tahu, bahwa setelah merapikan tas dan berganti pakaian, ia akan mendapat makanan cemilan dari Ariana.

            “Si Beti ini tahu, dia manjanya ke kamu. Kalau sama ibu dia masih ragu-ragu. Paling dia mengikuti ibu ke dapur, terus goleran sampai siang. Kadang dia ke luar sebentar di carport, lalu balik lagi ke dapur. Jarang dia masuk ke dalam kotak tempat tidurnya. Apa kita pindahkan saja kotak itu ke dalam rumah, ya?”

            “Boleh juga, Bu. Sekalian berjaga-jaga kalau dia melahirkan. Kasihan anak-anaknya kalau lahir di luar sana. Kuatir angin dan hujan.” Ariana mengambil kotak tempat tidur Beti, lalu memindahkannya ke ruang tengah, di depan kamar tidurnya. Kucing belang tiga itu mengeong sejenak, lalu mengikuti Ariana. Tampaknya ia senang dengan tempatnya yang baru, dan tanpa menunggu lama langsung melompat masuk dan berbaring nyaman di dalamnya.

            Keesokan harinya Ariana dikejutkan oleh suara anak kucing yang memecah keheningan subuh. Ia bangkit dari ranjang dan setengah mengantuk pergi ke luar. Di dalam kotak tampak si Beti sedang menjilati bola-bola bulu kecil yang bergerak.

            “Astaga…si Beti sudah punya anak. Jam berapa dia melahirkan, ya?” Bisiknya pelan. Tidak lama kemudian ibunya ke luar dari kamar dan ikut mengamati si Beti beserta anak-anaknya. Ada 3 ekor bayi kucing dengan warna yang berbeda-beda. Satu berwarna putih dengan bercak hitam, satu berwarna kuning jingga, dan satu berwarna hitam legam.

            “Aih…lucu sekali anak kucingnya. Semua belum bisa membuka mata. Oya, nanti kita beri makanan ekstra untuk si Beti, dia pasti lelah dan lapar setelah mengeluarkan tenaga untuk melahirkan.” Ibunya berkomentar lalu ikut berlutut di dekat kotak tidur si Beti dan mengelus kepalanya. Kucing itu mengeong pelan lalu memejamkan matanya dengan tenang.

            “Iya, Bu…lucu banget. Aku kaget dengar suara anak kucing. Ternyata kita punya anggota keluarga baru.” Ariana tersenyum. Entah mengapa, ada rasa bahagia ketika melihat mahluk berbulu yang baru lahir itu sibuk menyusu ke dada induknya.

*

            Sekarang Ariana punya kegiatan baru. Setelah mengurus si Beti dan anak-anaknya, baru dia berangkat kerja. Pada sore hari ia pun bergegas pulang untuk menyaksikan anak-anak si Beti yang tumbuh cepat. Si Hitam sudah mulai bergerak dan menyusuri kotak. Si Beti kadang ke luar dari kotak, mengambil makanan dan pergi ke luar sejenak. Rupanya ia pun perlu meluruskan punggung. Ariana tersenyum memperhatikan kelakuan si Beti dan anak-anaknya. Ada pengetahuan baru dan kegembiraan yang tidak dapat digambarkannya. Ia sibuk mencari informasi tentang perawatan kucing dan sesekali berbincang dengan teman kantornya yang juga memiliki kucing.

            Setelah sibuk dengan rutinitas barunya, hari ini Ariana dikejutkan dengan hilangnya Beti beserta anak-anaknya. Ketika ia pulang dari kantor, tidak ada Beti yang menyambutnya. Semula dipikirnya Beti sedang menyusui anak-anaknya, tapi ketika dilihatnya kotak itu kosong, ia mulai merasa panik.

            “Bu…lihat si Beti? Kok kotaknya kosong? Dia nggak ada.” Ariana menyambangi ibunya yang sedang menjahit di kamar. Sebagai perintang waktu, sekarang ibunya aktif membuat berbagai kerajinan dari kain yang dijualnya di komunitas kreatif. Wanita paruh baya itu menoleh lalu melepaskan kacamata bacanya.

            “Si Beti nggak ada di kotaknya? Mungkin dia ke luar sebentar. Tadi masih ada di situ dengan anak-anaknya.” Ibunya bangkit, meninggalkan jahitannya, lalu menyusul Ariana ke luar.

            Kotak itu kosong. Bahkan isi wadah makanan si Beti masih utuh. Berarti ia tidak makan siang tadi. Kemana perginya kucing belang tiga itu? Ariana merasa gundah. Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadap si Beti dan anak-anaknya?

            Malam itu Ariana tidak bisa tidur. Tadi ia sudah mencari di sekeliling rumah, barangkali si Beti ada di gudang atau di kamar belakang yang berisi tumpukan barang yang belum sempat dibongkar. Ariana memanggil-manggil, tidak ada sahutan sama sekali. Ke mana si Beti membawa anak-anaknya? Konon seekor kucing yang baru melahirkan sering membawa pindah anaknya untuk keamanan. Biasanya tidak jauh dari tempatnya melahirkan. Tapi kali ini Beti entah pergi ke mana.

*

            Beberapa hari Beti tidak ada di rumah. Semua terasa sepi dan berbeda. Biasanya ada sesuatu yang berseliweran di dekat kaki Ariana, atau duduk manis di sudut sofa. Ariana sudah bertekad, hari Minggu besok ia akan keliling ke rumah tetangga untuk mencari keberadaan si Beti.

            Baru saja Ariana masuk ke kamarnya, tiba-tiba didengarnya suara meongan di depan pintu ruang tamu. Segera Ariana bergegas membuka pintu dan melihat Beti di sana, sendirian.

            “Aduh Beti, kemana saja kamu? Aku jadi cemas, tahu? Mana anak-anakmu? Ayo, masuk. Makan dulu, pasti kamu lapar, ya?” Ariana memberondong kucing itu dengan sejumlah pertanyaan berbalut kecemasan. Si Beti melengos, menggoyangkan ekornya lalu lari ke tempat makanannya. Tanpa banyak mengeong, Beti menunduk lalu mulai makan pelahan. Dalam sekejap wadah makanan itu kosong. Ariana tersenyum lalu mengelus kepala Beti. Kucing yang sudah kenyang itu seperti biasa langsung berselonjor di lantai. Ia menjilat-jilat tubuhnya yang tampak agak kurus. Mungkin selama pergi dari rumah ia tidak mendapat makanan yang cukup.

            Ariana sudah senang si Beti Kembali ke rumah, tapi ia mencemaskan anak-anaknya. Di mana Beti menyembunyikan bayi-bayi kucing itu?

            Tidak lama berselonjor, kucing belang tiga itu bergegas ke pintu seakan minta ke luar. Ariana cukup tanggap. Ia segera membuka pintu dan dalam sekejap si Beti melesat, lalu menghilang di dalam kegelapan malam. Ariana tertegun. Ternyata si Beti hanya pulang untuk mengatakan, bahwa ia baik-baik saja, tapi belum berniat untuk pulang.

*

            Hari Minggu. Ariana tidak ada kegiatan khusus. Ia sudah tahu, bahwa si Beti aman di suatu tempat yang tidak ingin diketahui oleh siapa pun. Ia hanya berdoa agar si Beti segera kembali dan betah tinggal di rumahnya, tidak bepergian kemana-mana lagi. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara di sebelah rumahnya. Dari semua tetangga di sekitar rumahnya, hanya tetangga sebelah kiri ini yang belum dikenalnya. Kata Pak RT, rumah itu ditinggali oleh seorang pemuda yang sering bertugas di luar kota.

            Ariana ke luar, dan tiba-tiba melihat si Beti membawa anaknya di atas pagar. Setengah berlari ia menyambut si Beti. Kucing itu melengos, lalu dengan anaknya di mulut ia berlari masuk ke dalam rumah. Ariana memandang tidak percaya. Si Beti sudah berniat pulang sekarang.

            “Hai…Pus…Pus…mau dibawa ke mana anakmu?” Suara yang berat terdengar kembali. Ariana memanjangkan lehernya dan mendadak pandangannya bertemu dengan seseorang di seberang pagar.

            “Pus…pus yang mana Anda maksudkan?” tanya Ariana, setengah cemas. Ia kuatir, kalau si Beti adalah milik orang di seberang pagar itu. Orang itu menatapnya sejenak, lalu tersenyum. Mau tidak mau, Ariana ikut tersenyum. Pemuda itu cukup tampan, walaupun kelihatannya baru bangun tidur dan belum mandi.

            “Itu, kucing yang baru saja melompat dari pagar ini, membawa anaknya.” Pemuda itu menjelaskan.

            “Oh, itu si Beti. Kucing saya. Dia baru melahirkan 3 ekor anak kucing yang lucu. Jadi selama beberapa hari ini si Beti ada di situ?”

            “Si Beti? Namanya Beatrix, si kucing ratu. Sudah agak lama saya memeliharanya, tapi karena belakangan ini saya sering ke luar kota, dia menjadi agak terlantar.”

            “Oh, maaf. Saya pikir, si Beti kucing penghuni lama di rumah ini. Saya baru tinggal di sini. Kami belum sempat berkenalan dengan semua tetangga. Baru beberapa kenal beberapa. Perkenalkan, saya Ariana. Tinggal di sini bersama ibu saya.” Ariana akhirnya memperkenalkan diri. Pemuda itu tersenyum hangat.

            “Kenalkan juga, saya Bayu. Tinggal sendirian di sini. Saya jarang di rumah. Mungkin itu sebabnya si Beatrix, eh siapa tadi, si Beti mencari rumah baru untuk melahirkan anak-anaknya. Tidak apa-apa, saya senang karena si Beti terlihat sangat terawat sekarang. Terima kasih, ya.”

            “Terima kasih sama-sama. Saya menjaga si Beti karena dia lucu dan manja sekali. Sekalian untuk menemani ibu saya kalau saya sedang ke kantor. Biarlah si Beti yang memilih, mau tinggal di mana. Saya akan menjaganya kalau dia tidur di sini. Ada kotak tidurnya di dalam.” Ariana lega sekarang, karena selama ini ternyata si Beti aman terlindung, justru di rumahnya yang asli. Dasar kucing!

*

            Sejak hari itu si Beti tampak bahagia bisa berpindah dari rumah Ariana ke rumah Bayu. Ia membawa serta anak-anaknya, bolak balik. Pada siang hari ia berbaring santai di carport rumah Ariana, dan pada malam harinya ia tidur di dalam kotak yang hangat dengan alas selimut. Ariana memanjakan si Beti dan ketiga anaknya dengan berbagai makanan dan mainan. Sungguh seperti mengasuh anaknya sendiri.

            Sore ini ketika Ariana sedang bermain-main dengan anak-anak si Beti terlihat mobil Bayu memasuki halaman rumah sebelah. Tidak lama kemudian Bayu muncul di depan pagar rumah Ariana sambil membawa sebuah bungkusan besar. Ariana ke luar menyambut pemuda itu sambil bertanya-tanya di dalam hati.

            “Ini aku bawakan makanan dan mainan untuk si Beatrix dan anak-anaknya. Aku rasa mereka cukup betah tinggal di sini. Si Beatrix semakin jarang pulang.” Bayu tertawa kecil sambil mengangsurkan bungkusan yang dibawanya.

            “Namanya juga kucing, dia akan pulang ke tempat yang paling nyaman untuk mereka. Waduh, banyak sekali makanan dan mainannya. Stok makanan di sini juga masih banyak, termasuk yang untuk kitten. Aku juga sudah membuat kotak tidur yang lebih besar. Kasihan si Beti, harus bergelung ditimpa anak-anaknya.” Ariana menyambut bungkusan itu, lalu meletakkannya di teras.

            “Tidak apa-apa. Ini makanan masih baru, tanggal kadaluarsanya masih lama. Aku sekalian menitip si Beatrix. Besok aku ke luar kota, mungkin agak lama, jadi rumah kukunci rapat. Pasti dia tidak bisa masuk ke rumah. Biar dia tidur di sini saja dan anak-anaknya juga lebih aman.”

            Setelah urusan si Beti atau Beatrix usai, mereka malah mengobrol kian ke mari. Ternyata Bayu bekerja sebagai ahli riset marketing di sebuah perusahaan multi nasional. Pantas saja ia jarang di rumah. Ariana merasa nyaman mengobrol dengan pemuda itu, dari hal-hal sederhana seperti urusan perkucingan sampai urusan yang agak rumit tentang strategi pemasaran. Tampaknya ada hal-hal menarik yang dapat dibicarakan dengan pemuda itu.

*

            Waktu mengalir seperti siput yang merayap. Kepergian Bayu ternyata membawa dampak bagi Ariana. Tidak saja sebagai tetangga dan pemilik kucing belang tiga yang sekarang diasuhnya, tapi juga sebagai seseorang yang mulai mengisi relung hatinya. Ada kerinduan yang mengetuk hati setiap kali ia melihat melalui pagar rumahnya, pintu dan jendela di rumah sebelah masih tertutup rapat. Untuk tetap menjaga silaturahmi, kadang mereka saling bertukar kabar melalui pesan singkat, paling sering tentu tentang si Beti atau Beatrix. Dari pembicaraan omong kosong itu biasanya berlanjut ke pembicaraan lain. Tapi tidak ada yang menyentuh langsung tentang perasaan mereka. Sampai suatu hari.

            “Malam minggu ini kamu ada acara?” pesan singkat dari Bayu. Ariana tertegun. Sudah bertahun-tahun ia tidak memiliki acara khusus, kecuali ada acara dari kantor. Ia terlalu sibuk bekerja dan tahun lalu menyelesaikan kuliah magisternya. Baru tahun ini ia merasa bisa bernafas lebih lega.

            “Tidak ada. Paling nonton TV sama Ibu dan si Beatrix.” Ia membalas cepat.

            “Tidak keberatan kalau aku ajak makan di luar?” pesan baru masuk lagi.

            “Lha, bukannya kamu masih di luar kota?” Ariana bertanya heran. Ia mengirim emoticon tanda tanya.

            “Besok aku pulang. Aku hanya ingin memastikan, bahwa ada yang menungguku di rumah.”

            “Beatrix ada. Dia menunggu di rumahku.” Ariana membalas, disertai emoticon kucing.

            “Sedih. Masa hanya Beatrix? Tidak ada yang lainnya?”

            Ariana tertegun. Pertanyaan Bayu telah menunjukkan sebuah harapan. Jantung Ariana berdebar keras. Apakah Bayu mengujinya, atau memang serius?

            “Aku menunggu kamu.” Akhirnya Ariana menjawab sambil menghela nafas lega. Sebenarnya ia sudah lama ingin mengatakan, bahwa ia selalu menunggu kedatangan pemuda itu, tapi tentu saja kurang pantas bila ia mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu.

            “Serius?”

            “Tentu saja. Sejak kapan aku tidak serius?”

            Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk, dari Bayu. Dengan tangan gemetar dan jantung berdebar Ariana memencet tombol jawab. Suara Bayu yang hangat terdengar di seberang sana.

            “Ariana, kamu sudah serius kan? Sudah mantap? Aku ini pengelana kian ke mari. Sudah siap kalau sering ditinggal pergi?”

            “Ya, Mas Bayu. Aku serius. Aku sudah mengamati kamu sejak awal. Tidak apa-apa kalau kamu sering pergi, asalkan kamu tahu jalan pulang kembali. Seperti si Beti atau si Beatrix.”

            “Oh, oke. Aku yakin sekarang. Kalau begitu aku akan pulang segera. Mau membukakan pintu untukku sekarang?”

            “Sekarang? Bagaimana mungkin? Pintu rumahmu kan dikunci. Kuncinya kamu yang simpan.”

            “Sstt…tentu saja bukan pintu rumahku, Sayang. Pintu rumahmu dong. Ayo, buka. Aku sudah tidak sabar. Banyak sekali nyamuk di sini.”

            “Mas Bayu? Kamu tidak becanda kan?” Ariana panik seketika. Ia hanya mengenakan kaos rumahan dan celana pendek. Tapi ia penasaran, ingin membuktikan apakah benar-benar Bayu sudah ada di depan rumahnya. Dengan tangan gemetar ia membuka kunci pintu. Si Beti melompat masuk, disusul oleh seseorang di belakangnya. Ariana tertegun. Itu memang benar-benar Bayu. Jadi, dari tadi dia sudah pulang dan ada di situ. Astaga.

            “Maafkan aku, jadwalku berubah dan aku pulang mendadak. Lagi pula aku sudah kangen. Boleh aku masuk?” Pemuda itu menatap gadis di depannya dengan penuh harap. Ariana mengangguk. Ia menatap Bayu, masih tidak percaya dengan kehadiran pemuda itu di dalam kenyataan. Sudah beberapa malam, sejak melihat pemuda itu di balik pagar, wajahnya selalu menghias mimpi-mimpi Ariana.

            “Masuklah. Aku berganti pakaian dulu. Nanti aku panggilkan ibu.” Ariana berpaling, lalu berbalik ke dalam rumah. Bayu mengikutinya. Tiba-tiba, tanpa diduga ia menarik tangan gadis di depannya. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Bayu mendekatkan wajahnya, lalu berbisik ke telinga Ariana.

            “Aku sudah bilang kepada ibu, bahwa aku menyukai kamu. Aku ingin serius denganmu.”

            “Lho, kok kamu sudah mendahului bilang ke ibu? Bagaimana kalau aku tidak setuju?” Ariana berbisik pelan. Ia tidak menduga bahwa Bayu sudah melangkah lebih jauh.

            “Tidak mungkin kamu bilang tidak setuju. Atau aku akan ambil lagi si Beatrix?” Bayu mengerlingkan matanya. Ariana melongo. Akan mengambil Beatrix? Si Beti kesayangannya? Oh, tidak.

            “Jangan ambil dia. Aku menyayangi Beatrix, si Belang Tiga.” Ariana mengerutkan wajahnya. Pemuda di depannya merengkuhnya. Ariana bergetar, tidak percaya bahwa ia berada di dalam pelukan Bayu.

            “Kalau begitu aku akan ambil semuanya. Beatrix dan kamu sekalian.” Bayu memeluk Ariana lebih ketat membuat gadis itu gelagapan.

            “Ambillah. Bawalah. Aku akan mengikutimu.” Hanya itu yang dapat diucapkan Ariana sebelum ia tenggelam dalam pelukan hangat yang diimpikannya.**

**

Bintaro, 10 September 2023