#cerpen
BUKET UNTUK MAMA
Oleh : Ietje S.
Guntur
**
Della sedang menekuni pekerjaannya.
Sejak kemarin pesanan rangkaian bunga yang datang ke toko tempatnya bekerja
mengalir banyak sekali, ditujukan kepada orang yang sama dengan ucapan yang
sama. Dia agak heran, tapi dia menerima pesanan
itu dan membuatnya sesuai dengan kehendak pemesan. Sebagai seorang
florist dengan spesialis bunga buket dan bunga hiasan di meja Della harus
kreatif menciptakan model-model baru agar ada alternatif pilihan yang
disesuaikan dengan permintaan kliennya. Tidak hanya itu Della juga selalu merangkai
bunga sesuai dengan karakter dan kesukaan penerima buket.
“Selamat pagi. Boleh saya memesan
buket?” seseorang menyapanya dari balik jendela ruang kerja. Della menoleh.
Tidak biasanya tamu masuk ke wilayah kerjanya. Ke mana para petugas di depan
sana? Pikir Della heran. Ia segera ke luar menemui tamu tersebut.
“Apa yang bisa saya bantu, Pak? Mau
memesan buket seperti apa? Untuk siapa?” Della menyambut ramah. Matanya mencari-cari
petugas yang biasanya menerima tamu dan menuliskan pesanan. Tidak ada seorang
pun di situ, kecuali petugas yang sedang merapikan pesanan bunga papan.
“Untuk ibu saya. Beliau sedang
sakit, dan saya ingin mengirimkan bunga kesukaannya,” sahut tamu yang berada di
depannya. Della mengajak tamu tersebut berkeliling, menunjukkan contoh
rangkaian bunga dan buket yang sudah jadi. Biasanya dia membuat stok lima
sampai sepuluh contoh, yang sering kali diborong habis oleh para pelanggannya.
Untunglah ini masih pagi, sehingga jumlah rangkaian bunga dan buket cukup
lengkap.
“Apakah beliau suka dengan bunga
anggrek atau mawar?” Della bertanya lagi, karena kebiasaan orang memesan
berpatokan pada dua jenis bunga ini, kecuali ada permintaan khusus. Pemuda itu
memegang salah satu buket dengan kombinasi warna warni yang ceria. Della
membuatnya untuk menyemarakkan suasana. Biasanya rangkaian bunga jenis itu
dipesan untuk orang yang berulang tahun atau sedang merayakan suatu
keberhasilan.
“Mau saya tambahkan bunga lain, atau
saya rangkaikan yang baru?” Della menawarkan. Pemuda itu diam sejenak kemudian
menganggukkan kepala.
“Buatkan saja bunga yang baru. Kalau
tidak terlalu lama, akan saya tunggu,” jawabnya sambil menatap Della.
“Tidak lama. Silakan duduk dulu,”
Della segera memilih beberapa jenis bunga dengan warna warni yang sesuai dengan
perkiraan usia ibu pemuda tersebut. Dia merangkai dengan sepenuh hati, seakan
memberikan rangkaian bunga itu untuk orangtuanya sendiri. Tidak lama, rangkaian
bunga yang dipesan sudah selesai. Della menemui pemuda itu.
“Apakah begini cukup? Mau ditutup
dengan plastik kaca, atau cukup begini saja?”
“Wah, indah sekali. Tidak perlu
ditutup plastik kaca, saya akan membawanya sendiri. Terima kasih, ya.”
Pemuda
itu membayar sesuai harga yang telah ditentukan lalu pamit diiringi dengan
pandangan Della. Dalam hati ia mengagumi pemuda yang begitu sayang kepada
orangtuanya. Della merasa hatinya tergores. Dia tidak memiliki ibu lagi, bahkan
dia tidak pernah tahu wajah ibunya seperti apa. Hanya selembar foto usang yang
dimilikinya dan itulah yang mengikatnya dengan masa lalunya.
*
Pagi
baru merekah hari itu. Di awal minggu biasanya suasana toko bunga tidak terlalu
ramai. Hanya pelanggan kantor yang mengambil pesanan, sedangkan pesanan pribadi
jarang. Entahlah, Della juga merasa heran. Apakah orang sakit atau ulang tahun
menunda hari perayaannya?
“Selamat
pagi… Bolehkah saya memesan bunga lagi?” Sebuah suara mengejutkan Della. Dia
sudah mengenal pemuda yang menjadi pelanggan barunya.
“Pak
Herlan, selamat pagi. Bunga apa yang ingin dipesan hari ini? Untuk ibu?” tanya
Della sambil menyambut tamunya di teras toko yang sudah mulai dipenuhi dengan
aneka rangkaian bunga. Mereka sudah mulai bekerja sejak subuh, jadi jam tujuh
pagi sudah tersedia rangkaian bunga yang indah dan segar.
“Ya,
untuk ibu saya. Beliau senang sekali melihat rangkaian bunga yang saya pesan
sebelumnya. Hari ini beliau sudah boleh pulang ke rumah, jadi saya mau pesan
dua macam rangkaian. Yang satu untuk di kamar tidur, satu lagi untuk di ruang tengah.”
“Baiklah.
Apakah ukurannya mau sebesar ini, atau yang lebih besar?” Della menunjuk
ke arah rangkaian bunga dalam pot besar
dan satu lagi berukuran sedang untuk diletakkan di kamar tidur.”
Herlam
memilih ukuran bunga, membayar biayanya lalu menitipkan pesan, bahwa nanti
bunga akan diambil oleh supirnya. Della mengangguk senang, pagi-pagi sudah ada
rejeki mengalir ke tokonya. Ia melirik ke dalam, petugas administrasi
melemparkan senyum lebar kepadanya. Biasanya setelah ini pesanan akan mulai
masuk karena pintu rejeki sudah terbuka, begitu keyakinannya.
*
Setelah
memesan rangkaian bunga beberapa kali, Herlan mengatakan bahwa mulai minggu
depan dia tidak akan memesan bunga lagi. Della terkejut. Herlan dan ibunya
adalah pelanggan yang baik dan tidak rewel. Mereka memberikan apresiasi dan
juga rekomendasi kepada relasinya untuk memesan bunga di toko tempat Della
bekerja. Dengan ragu-ragu Della mengirim pesan singkat kepada Herlan,
menanyakan apakah ada layanan mereka yang salah atau kurang disukai. Dalam
sekejap Herlan membalas pesan itu dengan kalimat pendek ,”Mama sudah meninggal,
tidak perlu buket lagi.”
Della
merasa terkejut sekaligus berduka. Walaupun ia belum pernah bertemu dengan Ibu
Herawati, orangtua Herlan, tapi dia merasa sangat dekat dengan wanita itu.
Setiap kali merangkai bunga pesanan Herlan, ia seakan berkomunikasi dengan
orang yang akan menikmati hasil karyanya. Tidak jarang dia berbicara pelan,
seperti berhadapan orangnya langsung. Kali ini dia ingin memberikan karyanya
yang terakhir untuk wanita yang telah memberinya banyak rejeki dan jalan untuk
mendapat pelanggan lebih banyak.
“Pak
Herlan, bolehkah saya mengetahui di pemakaman mana Ibu Herawati dimakamkan?”
Della mengirim pesan lagi. Kalau sudah terlambat mengirim bunga dukacita ke
rumahnya, ia masih punya kesempatan untuk memperindah makam tempat wanita itu
berbaring dalam keabadian.
Herlan
menjawab tidak lama kemudian, lengkap dengan nama blok serta peta jalan ke
sana. Della mencatat dengan cermat, dan berjanji akan segera membuat rangkaian
bunga yang pasti disukai oleh pelanggannya itu.
*
Situasi
di lokasi pemakaman sangat sepi. Cuaca mendung setelah hujan semalaman membuat
suasana terasa hening dan hikmat. Della berjalan pelan, menyusuri blok demi
blok mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Herlan. Dari kejauhan dilihatnya
ada makam yang masih baru, tanpa bunga rangkaian di atasnya. Mungkin pemakaman
sudah berlangsung beberapa hari dan sekarang sudah dibersihkan oleh petugas
makam.
Dengan
hikmat Della berlutut di sisi makam yang tanahnya masih basah. Ada sedikit sisa
bunga tabur yang telah mengering. Della membaca nama di papan petunjuk Herawati
binti Hasnan. Benar, ini adalah makam wanita yang banyak menolongnya. Mendadak
hatinya terasa ngelangut, terharu membayangkan wajah wanita itu.
Bagaimanakah rupanya? Bila melihat wajah Herlan putranya, tentulah wanita ini
juga memiliki paras yang menawan. Sayangnya ia tidak pernah melihat foto
ataupun melihatnya.
Setelah
meletakkan rangkaian bunga dan berdoa, Della bangkit dan meninggalkan
lingkungan makam. Rasanya aneh sekali, seperti ia meninggalkan seseorang yang
dicintainya. Apakah begini rasanya bila kita kehilangan orangtua? Pikir Della
sedih. Dia tidak pernah tahu kapan orangtuanya meninggal. Sepanjang hidupnya
dia hanya sendiri, diasuh oleh keluarga ibunya dan kemudian dititipkan di panti
asuhan, sehingga belum pernah merasakan kehilangan orangtua.
*
Della
sedang mengatur pesanan bunga yang harus dikirim pagi itu ketika dilihatnya
Herlan datang ke tokonya. Ia segera keluar menemui tamunya. Apakah Herlan akan
memesan bunga lagi? Dilihatnya wajah pemuda itu tampak murung. Mungkin rasa
sedih dan dukacitanya masih bergelayut. Siapa yang tahu isi hati orang?
“Selamat
pagi, Della.”
“Selamat
pagi, Pak Herlan. Apakah bapak mau pesan bunga lagi?” Tanya Della berhati-hati.
Dia tidak ingin terlihat rakus pesanan, tapi sebagai pelanggan ia harus
melayani Herlan dengan sebaik-baiknya.
Herlan
diam beberapa saat, lalu memandang berkeliling ke arah rangkaian bunga yang
sudah siap dikirim. Ia menggelengkan kepala, kemudian menatap Della.
“Kamu
yang mengirimkan bunga untuk makam Mama?” Herlan bertanya lembut. Nada suaranya
sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Della mengangguk, hatinya diliputi
kekuatiran. Dia tidak ingin dikatakan lancang, tapi sejujurnya dari lubuk
hatinya ia ingin menyampaikan rasa terima kasih. Hanya membuat rangkaian bunga
yang dapat dilakukannya, dan itu sudah
atas ijin atasannya.
“Iya,
Pak Herlan. Mohon maaf bila Pak Herlan tidak berkenan,” sahut Della dengan
sopan. Ia menatap pasrah ke arah pemuda itu, bahkan bila Herlan mengamuk ia
akan menerimanya.
Pemuda
itu tersenyum. Matanya bercahaya sekarang. Wajahnya yang semula murung seperti
langit mendung, sekarang terlihat memancarkan semangat.
“Aku
tidak marah, Della. Mengapa harus marah? Aku justru ingin mengucapkan terima
kasih atas perhatian kamu terhadap Mama. Saat tidak ada lagi orang yang peduli
kepada beliau, kamulah yang memberikan perhatian yang tulus. Mungkin Mama tidak
kenal kamu, tapi aku yakin Mama merasakan ketulusan yang kamu berikan.”
Della
menundukkan kepala. Matanya mendadak terasa panas. Tidak disangkanya bahwa
orang seperti Herlan bisa bersikap lemah lembut dan sopan kepadanya. Kebanyakan
pelanggan hanya melihat dia sebagai florist, seorang tukang penata bunga. Tidak
lebih. Herlan berbeda.
“Alhamdulilllah…saya
melakukannya karena merasa mendapat perhatian dan penghargaan dari beliau atas
karya saya. Itu sangat menguatkan hati saya. Sekarang banyak pelanggan baru
yang datang atas rekomendasi Ibu Herawati. Mereka bahkan melontarkan pujian dan
penghargaan atas setiap karya saya yang ada di rumahnya.”
“Della…kamu
orang baik dan tulus. Aku dan Mama melihatnya dari hasil karyamu. Setiap kali
tidak pernah sama, selalu ada sentuhan pribadi seperti pesan khusus untuk Mama.
Mulai sekarang, maukah kamu membuatkan rangkaian bunga buket setiap minggu
untuk makam Mama? Aku akan mengambilnya ke mari.”
Della
tertegun. Dia tidak menduga, bahwa Herlan bukannya marah, malah memberikan
order untuk makam ibunya. Entah sampai berapa lama ini akan berlangsung. Yang
jelas, selama Herlan merasa puas, maka pesanan pasti akan mengalir. Dengan
wajah sumringah Della menganggukkan kepala. Ia pasti akan membuat rangkaian
bunga dengan tema berbeda setiap minggu.
*
Minggu
demi minggu berganti. Waktu seakan mengalir seperti air sungai di pegunungan.
Terasa begitu cepat. Hubungan Herlan dan Della juga demikian. Dari sekedar
memesan bunga setiap minggu, mereka semakin sering mengobrol dan berdiskusi.
Herlan mengagumi daya kreasi Della yang seakan tidak pernah terputus. Atasannya
mengakui hal itu. Tanpa Della, mungkin toko bunganya akan sama saja dengan toko
bunga lain, tidak memiliki ciri khas. Tangan Della selalu lincah menari di
antara bunga-bunga yang sedang dirangkainya.
“Della,
maukah kamu menemani aku besok ke makam Mama?” tanya Herlan di suatu pagi.
Della terkejut. Selama ini mereka hanya mengobrol di toko dan sesekali makan
bakso di warung dekat toko bunga itu ketika pesanan Herlan telah selesai.
Namun, pergi ke makam bersama pemuda itu tidak pernah terlintas di dalam
pikirannya. Apa urusannya? Dia hanya penyedia jasa merangkai bunga dan Herlan
seorang pelanggannya. Apakah Herlan mau meminta aku menghias makam ibunya?
Pikir Della sebelum memberikan jawaban.
“Besok
hari ulang tahun Mama. Aku ingin memberikan buket yang indah untuk beliau.
Hanya bunga dan doa yang bisa kuberikan. Selama ini aku sibuk sendiri dengan
pekerjaan dan karirku. Aku seakan mengabaikan Mama. Ketika Mama sakit beberapa
waktu lalu, aku baru menyadari bahwa kehadiran Mama dalam hidupku sangat
penting. Beliau yang selalu mengingatkan aku untuk banyak hal. Dari hal remeh
temeh sampai hal penting, Mama mengingatkan dengan lembut. Bahkan di sela waktu
istirahatnya Mama masih berusaha memasak makanan kesukaanku.” Suara Herlan
seperti tercekat. Della menatap pemuda itu dengan penuh haru. Dia ikut
merasakan dan memahami betapa sedihnya bila tidak memiliki seorang ibu lagi.
Beruntung Herlan masih punya kesempatan untuk berbakti dan menemani ibunya
sampai akhir hayatnya. Sedangkan dia?
“Baik,
Pak Herlan. Akan saya buat rangkaian yang terbaik. Jam berapa besok kita akan
ke makam? Saya minta ijin dulu kepada Pak Bos, ya?”
“Sepagi
mungkin, agar masih sepi dan nyaman di sana. Oya, satu lagi. Berhenti
menyebutku Pak Herlan. Aku merasa seperti seorang lelaki tua. Sebut saja
namaku, atau kalau kamu sungkan boleh panggil Kakak atau Abang, apa pun yang
kamu rasa nyaman.”
Della
melongo. Tidak boleh menyebut Pak Herlan lagi?
*
Angin
pagi bertiup pelahan. Della berjalan pelan mengikuti langkah Herlan. Pemuda itu
membawa sebuah foto keluarga. Ada Herlan, ibu, ayah dan satu kakak
perempuannya. Kata Herlan, kakak perempuannya sekarang menetap di luar negeri.
Itu yang membuat ibunya sedih karena menahan rindu. Apa boleh buat, karir dan
keluarga suaminya ada di negeri orang.
“Ibumu
cantik. Ayahmu juga keren.” Hanya itu yang dapat diucapkan Della ketika Herlan
menunjukkan foto ibu dan ayahnya. Tidak heran pemuda itu mewarisi kegantengan
ayahnya. Sayang, kedua orangtuanya sudah meninggal sehingga Herlan sekarang
tinggal sendirian di rumahnya yang lumayan besar. Kakaknya tidak mau pulang ke
Indonesia, dan menyuruh adiknya menjual rumah itu bila ia takut tinggal di
sana. Herlan bilang, ia masih mempertimbangkan beberapa hal sebelum membuat
keputusan.
Herlan
berlutut di tepi makam, membersihkan daun-daun yang berserakan di atas
rerumputan yang sekarang tumbuh subur dan terawat. Della mengambil tempat di
sisinya, lalu meletakkan karangan bunga di bagian kepala makam.
“Ibu
Hera, kami datang. Ibu baik-baik saja, kan?” bisik Della seakan berbicara
dengan wanita itu. Herlan terkejut. Sikap polos dan spontan Della sudah lama membuatnya tertarik, tapi dia tidak
menyangka bahwa gadis itu akan berbicara dengan ibunya seakan-akan mereka
sedang berkunjung ke rumah.
Dengan
lembut ia meraih telapak tangan gadis itu lalu menggenggamnya. Ia merasa tangan
kasar gadis itu karena terbiasa bekerja keras dengan berbagai alat dan tangkai
bunga yang setiap saat menusuknya. Pelan-pelan ia mengangkat tangan gadis itu
lalu menciumnya lembut. Della terkejut, tapi ia tidak berani menarik tangannya.
Mereka berpandangan sekarang. Mendadak Della merasa jantungnya berdetak kencang
dan darahnya mengalir lebih cepat. Ia merasa gugup dan tidak tahu harus
melakukan apa.
“Della,
bilang sama Mama, bahwa aku menggodamu,” bisik Herlan lembut. Della mengerutkan
tubuhnya. Dia kuatir bahwa Herlan mengalami halusinasi atau apa. Tadi dia
sendiri berbicara dengan Ibu Herawati karena kebiasaannya berkomunikasi dengan
siapa saja.
“Aku…apa?
Mengapa harus aku yang mengatakannya? Bukankah kamu yang melakukannya?” Della
berkata gugup. Dia menatap ke dalam mata Herlan. Tidak ada tanda-tanda pemuda
itu akan menyakitinya atau sedang berhalusinasi. Yang dilihatnya hanya kehangatan
dan kelembutan.
“Baiklah…aku
akan bilang, tapi kamu harus setuju, ya?” Mata Herlan menatap tajam, meluluhkan
hati Della. Tanpa sadar ia mengangguk.
“Ma…ini
kami datang. Aku dan Della, gadis baik hati yang menyayangi Mama. Aku ingin
minta restu Mama, aku akan melamar Della untuk menjadi pendampingku. Tadi
katanya dia sudah setuju. Boleh, ya Ma?”
Kali
ini Della benar-benar terperanjat. Dia mau menarik tangannya dan menjauhi
pemuda itu, tapi dia kalah cepat. Herlan merangkul dan menarik ke dalam
pelukannya.
“Apa…kenapa
kamu minta restu Mama? Apa yang sudah aku setujui?” Della bertanya panik.
Apakah dia tidak salah dengar? Herlan mau melamarnya? Melamar menjadi pegawai
di toko bunga?
“Della…dengarkan
aku, ini serius. Aku tidak main-main ketika minta restu sama Mama. Aku hanya
menjalankan amanat beliau. Pesannya sebelum meninggal adalah agar aku segera
mencari pendampingku, yang hormat dan sayang kepada Mama, apa pun keadaannya.
Sejak awal kamu membuat rangkaian bunga untuk Mama, kami sudah menilai bahwa
kamu bukan florist biasa. Kamu memiliki passion dan cinta untuk setiap karya
yang kamu lahirkan. Kami merasakan, terutama Mama, bahwa kamu selalu
berkomunikasi melalui bunga-bunga itu. Awalnya aku tidak percaya apa yang Mama
katakan, tapi sekarang aku percaya bahwa kamu bisa berkomunikasi kepada apa
saja dengan berbagai cara.”
“Jadi,
aku harus bagaimana?” Della mengerutkan tubuhnya. Dia belum siap menerima
permintaan Herlan, apa pun alasan pemuda itu. Siapa dirinya sehingga berani
menerima lamaran Herlan? Pungguk boleh merindukan bulan, tapi dia sudah lama
tidak berani merindukan siapa-siapa.
“Pegang
tanganku, Della. Aku minta, atas restu Mama, maukah kamu menjadi istriku?”
Herlan berkata lembut. Della merasa dadanya bergemuruh, seluruh tubuhnya
seperti terbakar, matanya terasa panas dan basah. Dengan ragu-ragu ia
menganggukkan kepalanya.
Herlan
merengkuh Della ke dalam pelukannya. Dia tahu, bahwa gadis itu sebatang kara di
dunia ini. Dia tidak punya keluarga, tidak punya rumah, tidak punya pelindung.
Sekarang dia akan punya rumah, akan punya keluarga, akan ada seseorang
yang melindungi dan menemaninya. Herlan yang
akan memberikan itu semua kepadanya.**
Bintaro,
3 Desember 2023
**