#Cerpen
CINTA BELANG TIGA
Oleh : Ietje S. Guntur
Ariana sedang membereskan
barang-barang yang baru dikirim dari rumahnya yang lama.. Sejak ayahnya
meninggal ia harus merubah banyak hal di dalam kehidupannya. Semula ia hanya menyewa
sebuah kamar kos, dan pulang ke rumah setiap akhir pekan. Kini ia memutuskan
tinggal bersama ibunya lagi dan menempati rumah yang lebih kecil di kawasan yang
lebih dekat jaraknya dari kantornya . Tiba-tiba seekor kucing belang tiga masuk
ke ruangan, mengeong pelan seakan minta perhatian. Ariana menoleh. Perut kucing
itu tampak besar dan berat. Ariana kasihan melihatnya.
“Bu, ada stok makanan di kulkas?”
Tanya Ariana ketika melihat ibunya sedang berada di dapur. Kucing itu
mengikutinya, seakan tahu akan diberi makanan.
“Kucing siapa itu?” Ibunya balas
bertanya.
“Nggak tahu, Bu. Mungkin dia lapar.
Kita kasih makan sedikit deh. Kasihan, sepertinya diia kelaparan.”
“Ibu baru lihat kucing ini ke mari.
Dari kemarin tidak ada. Kok dia mengikuti kamu, apa dipikirnya ini rumahnya?”
“Boleh jadi ini kucing peninggalan
penghuni lama, ya Bu. Ya, sudahlah biar saja dia di sini, bisa menemani kita
dan mungkin sekalian menangkap tikus.”
“Iya, bisa jadi teman ibu kalau kamu
sedang pergi kerja. Ibu belum sempat bepergian dan berkenalan dengan tetangga
kiri kanan. Hanya tetangga depan kemarin menyapa sekilas.”
Ariana mengambil sepotong ikan
goreng sisa makan siang yang disimpannya dalam wadah plastik di kulkas. Ia
menaruh potongan ikan itu di piring bekas kemasan makanan lalu membiarkan si
Kucing menyantapnya. Ternyata kucing itu suka dengan ikan goreng, dan dalam
sekejap sudah habis disantapnya, kecuali beberapa helai duri yang tertinggal.
Ariana tersenyum melihat kucing itu membaringkan tubuh di dekat kakinya.
“Bagus bulunya, Bu. Kelihatannya ini
kucing betina. Perutnya cukup besar, kemungkinan besar dia hamil dan segera memiliki
anak. Besok aku belikan makanan kucing deh, ada toko di jalan raya yang menjual
makanan dan keperluan hewan. Ibu nggak keberatan kalau kita memeliharanya kan?”
Ariana mengajuk ibunya. Selama ini mereka tidak memelihara hewan apa pun,
karena ayahnya alergi bulu kucing.
“Wah, ibu malah senang sekali. Nanti
ibu carikan kardus bekas dan alas untuk tidurnya. Kita taruh di teras saja, di bawah
atap carport. Eh, siapa namanya, ya? Masa dipanggil Pus Pus saja? Nggak kreatif
banget.” Ibunya tersenyum.
“Iya…mesti ada namanya. Berhubung dia
kucing betina dan bulunya belang tiga, kita kasih nama si Beti saja. Belang
Tiga, gampang.” Ariana tertawa kecil. Kucing belang tiga yang akhirnya mendapat
nama Beti itu mengeong lembut, seakan menerima namanya sebagai panggilan.
*
Tanpa terasa sudah beberapa hari si
Beti betah di rumah Ariana. Dia selalu mengantarkan gadis itu saat berangkat ke
kantor dengan sepeda motor, dan menyambutnya di teras ketika mendengar suara
motor mendekati halaman. Ini seakan menjadi ritual mereka berdua. Beti juga
tahu, bahwa setelah merapikan tas dan berganti pakaian, ia akan mendapat
makanan cemilan dari Ariana.
“Si Beti ini tahu, dia manjanya ke
kamu. Kalau sama ibu dia masih ragu-ragu. Paling dia mengikuti ibu ke dapur,
terus goleran sampai siang. Kadang dia ke luar sebentar di carport, lalu balik
lagi ke dapur. Jarang dia masuk ke dalam kotak tempat tidurnya. Apa kita pindahkan
saja kotak itu ke dalam rumah, ya?”
“Boleh juga, Bu. Sekalian
berjaga-jaga kalau dia melahirkan. Kasihan anak-anaknya kalau lahir di luar
sana. Kuatir angin dan hujan.” Ariana mengambil kotak tempat tidur Beti, lalu
memindahkannya ke ruang tengah, di depan kamar tidurnya. Kucing belang tiga itu
mengeong sejenak, lalu mengikuti Ariana. Tampaknya ia senang dengan tempatnya
yang baru, dan tanpa menunggu lama langsung melompat masuk dan berbaring nyaman
di dalamnya.
Keesokan harinya Ariana dikejutkan
oleh suara anak kucing yang memecah keheningan subuh. Ia bangkit dari ranjang
dan setengah mengantuk pergi ke luar. Di dalam kotak tampak si Beti sedang
menjilati bola-bola bulu kecil yang bergerak.
“Astaga…si Beti sudah punya anak.
Jam berapa dia melahirkan, ya?” Bisiknya pelan. Tidak lama kemudian ibunya ke
luar dari kamar dan ikut mengamati si Beti beserta anak-anaknya. Ada 3 ekor
bayi kucing dengan warna yang berbeda-beda. Satu berwarna putih dengan bercak
hitam, satu berwarna kuning jingga, dan satu berwarna hitam legam.
“Aih…lucu sekali anak kucingnya.
Semua belum bisa membuka mata. Oya, nanti kita beri makanan ekstra untuk si
Beti, dia pasti lelah dan lapar setelah mengeluarkan tenaga untuk melahirkan.”
Ibunya berkomentar lalu ikut berlutut di dekat kotak tidur si Beti dan mengelus
kepalanya. Kucing itu mengeong pelan lalu memejamkan matanya dengan tenang.
“Iya, Bu…lucu banget. Aku kaget
dengar suara anak kucing. Ternyata kita punya anggota keluarga baru.” Ariana
tersenyum. Entah mengapa, ada rasa bahagia ketika melihat mahluk berbulu yang
baru lahir itu sibuk menyusu ke dada induknya.
*
Sekarang Ariana punya kegiatan baru.
Setelah mengurus si Beti dan anak-anaknya, baru dia berangkat kerja. Pada sore
hari ia pun bergegas pulang untuk menyaksikan anak-anak si Beti yang tumbuh cepat.
Si Hitam sudah mulai bergerak dan menyusuri kotak. Si Beti kadang ke luar dari
kotak, mengambil makanan dan pergi ke luar sejenak. Rupanya ia pun perlu meluruskan
punggung. Ariana tersenyum memperhatikan kelakuan si Beti dan anak-anaknya. Ada
pengetahuan baru dan kegembiraan yang tidak dapat digambarkannya. Ia sibuk
mencari informasi tentang perawatan kucing dan sesekali berbincang dengan teman
kantornya yang juga memiliki kucing.
Setelah sibuk dengan rutinitas
barunya, hari ini Ariana dikejutkan dengan hilangnya Beti beserta anak-anaknya.
Ketika ia pulang dari kantor, tidak ada Beti yang menyambutnya. Semula dipikirnya
Beti sedang menyusui anak-anaknya, tapi ketika dilihatnya kotak itu kosong, ia
mulai merasa panik.
“Bu…lihat si Beti? Kok kotaknya
kosong? Dia nggak ada.” Ariana menyambangi ibunya yang sedang menjahit di
kamar. Sebagai perintang waktu, sekarang ibunya aktif membuat berbagai kerajinan
dari kain yang dijualnya di komunitas kreatif. Wanita paruh baya itu menoleh
lalu melepaskan kacamata bacanya.
“Si Beti nggak ada di kotaknya?
Mungkin dia ke luar sebentar. Tadi masih ada di situ dengan anak-anaknya.”
Ibunya bangkit, meninggalkan jahitannya, lalu menyusul Ariana ke luar.
Kotak itu kosong. Bahkan isi wadah
makanan si Beti masih utuh. Berarti ia tidak makan siang tadi. Kemana perginya
kucing belang tiga itu? Ariana merasa gundah. Bagaimana kalau terjadi sesuatu
terhadap si Beti dan anak-anaknya?
Malam itu Ariana tidak bisa tidur. Tadi
ia sudah mencari di sekeliling rumah, barangkali si Beti ada di gudang atau di
kamar belakang yang berisi tumpukan barang yang belum sempat dibongkar. Ariana
memanggil-manggil, tidak ada sahutan sama sekali. Ke mana si Beti membawa
anak-anaknya? Konon seekor kucing yang baru melahirkan sering membawa pindah
anaknya untuk keamanan. Biasanya tidak jauh dari tempatnya melahirkan. Tapi
kali ini Beti entah pergi ke mana.
*
Beberapa hari Beti tidak ada di
rumah. Semua terasa sepi dan berbeda. Biasanya ada sesuatu yang berseliweran di
dekat kaki Ariana, atau duduk manis di sudut sofa. Ariana sudah bertekad, hari
Minggu besok ia akan keliling ke rumah tetangga untuk mencari keberadaan si Beti.
Baru saja Ariana masuk ke kamarnya,
tiba-tiba didengarnya suara meongan di depan pintu ruang tamu. Segera Ariana
bergegas membuka pintu dan melihat Beti di sana, sendirian.
“Aduh Beti, kemana saja kamu? Aku
jadi cemas, tahu? Mana anak-anakmu? Ayo, masuk. Makan dulu, pasti kamu lapar,
ya?” Ariana memberondong kucing itu dengan sejumlah pertanyaan berbalut
kecemasan. Si Beti melengos, menggoyangkan ekornya lalu lari ke tempat
makanannya. Tanpa banyak mengeong, Beti menunduk lalu mulai makan pelahan.
Dalam sekejap wadah makanan itu kosong. Ariana tersenyum lalu mengelus kepala Beti.
Kucing yang sudah kenyang itu seperti biasa langsung berselonjor di lantai. Ia
menjilat-jilat tubuhnya yang tampak agak kurus. Mungkin selama pergi dari rumah
ia tidak mendapat makanan yang cukup.
Ariana sudah senang si Beti Kembali ke
rumah, tapi ia mencemaskan anak-anaknya. Di mana Beti menyembunyikan bayi-bayi
kucing itu?
Tidak lama berselonjor, kucing
belang tiga itu bergegas ke pintu seakan minta ke luar. Ariana cukup tanggap.
Ia segera membuka pintu dan dalam sekejap si Beti melesat, lalu menghilang di
dalam kegelapan malam. Ariana tertegun. Ternyata si Beti hanya pulang untuk
mengatakan, bahwa ia baik-baik saja, tapi belum berniat untuk pulang.
*
Hari Minggu. Ariana tidak ada
kegiatan khusus. Ia sudah tahu, bahwa si Beti aman di suatu tempat yang tidak
ingin diketahui oleh siapa pun. Ia hanya berdoa agar si Beti segera kembali dan
betah tinggal di rumahnya, tidak bepergian kemana-mana lagi. Tiba-tiba ia
dikejutkan oleh suara di sebelah rumahnya. Dari semua tetangga di sekitar
rumahnya, hanya tetangga sebelah kiri ini yang belum dikenalnya. Kata Pak RT,
rumah itu ditinggali oleh seorang pemuda yang sering bertugas di luar kota.
Ariana ke luar, dan tiba-tiba
melihat si Beti membawa anaknya di atas pagar. Setengah berlari ia menyambut si
Beti. Kucing itu melengos, lalu dengan anaknya di mulut ia berlari masuk ke
dalam rumah. Ariana memandang tidak percaya. Si Beti sudah berniat pulang
sekarang.
“Hai…Pus…Pus…mau dibawa ke mana
anakmu?” Suara yang berat terdengar kembali. Ariana memanjangkan lehernya dan
mendadak pandangannya bertemu dengan seseorang di seberang pagar.
“Pus…pus yang mana Anda maksudkan?”
tanya Ariana, setengah cemas. Ia kuatir, kalau si Beti adalah milik orang di
seberang pagar itu. Orang itu menatapnya sejenak, lalu tersenyum. Mau tidak
mau, Ariana ikut tersenyum. Pemuda itu cukup tampan, walaupun kelihatannya baru
bangun tidur dan belum mandi.
“Itu, kucing yang baru saja melompat
dari pagar ini, membawa anaknya.” Pemuda itu menjelaskan.
“Oh, itu si Beti. Kucing saya. Dia
baru melahirkan 3 ekor anak kucing yang lucu. Jadi selama beberapa hari ini si
Beti ada di situ?”
“Si Beti? Namanya Beatrix, si kucing
ratu. Sudah agak lama saya memeliharanya, tapi karena belakangan ini saya sering
ke luar kota, dia menjadi agak terlantar.”
“Oh, maaf. Saya pikir, si Beti
kucing penghuni lama di rumah ini. Saya baru tinggal di sini. Kami belum sempat
berkenalan dengan semua tetangga. Baru beberapa kenal beberapa. Perkenalkan,
saya Ariana. Tinggal di sini bersama ibu saya.” Ariana akhirnya memperkenalkan
diri. Pemuda itu tersenyum hangat.
“Kenalkan juga, saya Bayu. Tinggal
sendirian di sini. Saya jarang di rumah. Mungkin itu sebabnya si Beatrix, eh
siapa tadi, si Beti mencari rumah baru untuk melahirkan anak-anaknya. Tidak apa-apa,
saya senang karena si Beti terlihat sangat terawat sekarang. Terima kasih, ya.”
“Terima kasih sama-sama. Saya
menjaga si Beti karena dia lucu dan manja sekali. Sekalian untuk menemani ibu
saya kalau saya sedang ke kantor. Biarlah si Beti yang memilih, mau tinggal di
mana. Saya akan menjaganya kalau dia tidur di sini. Ada kotak tidurnya di
dalam.” Ariana lega sekarang, karena selama ini ternyata si Beti aman
terlindung, justru di rumahnya yang asli. Dasar kucing!
*
Sejak hari itu si Beti tampak bahagia
bisa berpindah dari rumah Ariana ke rumah Bayu. Ia membawa serta anak-anaknya,
bolak balik. Pada siang hari ia berbaring santai di carport rumah Ariana, dan
pada malam harinya ia tidur di dalam kotak yang hangat dengan alas selimut.
Ariana memanjakan si Beti dan ketiga anaknya dengan berbagai makanan dan mainan.
Sungguh seperti mengasuh anaknya sendiri.
Sore ini ketika Ariana sedang
bermain-main dengan anak-anak si Beti terlihat mobil Bayu memasuki halaman rumah
sebelah. Tidak lama kemudian Bayu muncul di depan pagar rumah Ariana sambil
membawa sebuah bungkusan besar. Ariana ke luar menyambut pemuda itu sambil bertanya-tanya
di dalam hati.
“Ini aku bawakan makanan dan mainan
untuk si Beatrix dan anak-anaknya. Aku rasa mereka cukup betah tinggal di sini.
Si Beatrix semakin jarang pulang.” Bayu tertawa kecil sambil mengangsurkan
bungkusan yang dibawanya.
“Namanya juga kucing, dia akan
pulang ke tempat yang paling nyaman untuk mereka. Waduh, banyak sekali makanan
dan mainannya. Stok makanan di sini juga masih banyak, termasuk yang untuk
kitten. Aku juga sudah membuat kotak tidur yang lebih besar. Kasihan si Beti,
harus bergelung ditimpa anak-anaknya.” Ariana menyambut bungkusan itu, lalu
meletakkannya di teras.
“Tidak apa-apa. Ini makanan masih
baru, tanggal kadaluarsanya masih lama. Aku sekalian menitip si Beatrix. Besok
aku ke luar kota, mungkin agak lama, jadi rumah kukunci rapat. Pasti dia tidak
bisa masuk ke rumah. Biar dia tidur di sini saja dan anak-anaknya juga lebih
aman.”
Setelah urusan si Beti atau Beatrix
usai, mereka malah mengobrol kian ke mari. Ternyata Bayu bekerja sebagai ahli
riset marketing di sebuah perusahaan multi nasional. Pantas saja ia jarang di
rumah. Ariana merasa nyaman mengobrol dengan pemuda itu, dari hal-hal sederhana
seperti urusan perkucingan sampai urusan yang agak rumit tentang strategi pemasaran.
Tampaknya ada hal-hal menarik yang dapat dibicarakan dengan pemuda itu.
*
Waktu mengalir seperti siput yang
merayap. Kepergian Bayu ternyata membawa dampak bagi Ariana. Tidak saja sebagai
tetangga dan pemilik kucing belang tiga yang sekarang diasuhnya, tapi juga
sebagai seseorang yang mulai mengisi relung hatinya. Ada kerinduan yang
mengetuk hati setiap kali ia melihat melalui pagar rumahnya, pintu dan jendela
di rumah sebelah masih tertutup rapat. Untuk tetap menjaga silaturahmi, kadang
mereka saling bertukar kabar melalui pesan singkat, paling sering tentu tentang
si Beti atau Beatrix. Dari pembicaraan omong kosong itu biasanya berlanjut ke
pembicaraan lain. Tapi tidak ada yang menyentuh langsung tentang perasaan
mereka. Sampai suatu hari.
“Malam minggu ini kamu ada acara?”
pesan singkat dari Bayu. Ariana tertegun. Sudah bertahun-tahun ia tidak
memiliki acara khusus, kecuali ada acara dari kantor. Ia terlalu sibuk bekerja
dan tahun lalu menyelesaikan kuliah magisternya. Baru tahun ini ia merasa bisa
bernafas lebih lega.
“Tidak ada. Paling nonton TV sama
Ibu dan si Beatrix.” Ia membalas cepat.
“Tidak keberatan kalau aku ajak makan
di luar?” pesan baru masuk lagi.
“Lha, bukannya kamu masih di luar
kota?” Ariana bertanya heran. Ia mengirim emoticon tanda tanya.
“Besok aku pulang. Aku hanya ingin
memastikan, bahwa ada yang menungguku di rumah.”
“Beatrix ada. Dia menunggu di
rumahku.” Ariana membalas, disertai emoticon kucing.
“Sedih. Masa hanya Beatrix? Tidak
ada yang lainnya?”
Ariana tertegun. Pertanyaan Bayu
telah menunjukkan sebuah harapan. Jantung Ariana berdebar keras. Apakah Bayu
mengujinya, atau memang serius?
“Aku menunggu kamu.” Akhirnya Ariana
menjawab sambil menghela nafas lega. Sebenarnya ia sudah lama ingin mengatakan,
bahwa ia selalu menunggu kedatangan pemuda itu, tapi tentu saja kurang pantas
bila ia mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu.
“Serius?”
“Tentu saja. Sejak kapan aku tidak
serius?”
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah
panggilan masuk, dari Bayu. Dengan tangan gemetar dan jantung berdebar Ariana
memencet tombol jawab. Suara Bayu yang hangat terdengar di seberang sana.
“Ariana, kamu sudah serius kan?
Sudah mantap? Aku ini pengelana kian ke mari. Sudah siap kalau sering ditinggal
pergi?”
“Ya, Mas Bayu. Aku serius. Aku sudah
mengamati kamu sejak awal. Tidak apa-apa kalau kamu sering pergi, asalkan kamu
tahu jalan pulang kembali. Seperti si Beti atau si Beatrix.”
“Oh, oke. Aku yakin sekarang. Kalau
begitu aku akan pulang segera. Mau membukakan pintu untukku sekarang?”
“Sekarang? Bagaimana mungkin? Pintu
rumahmu kan dikunci. Kuncinya kamu yang simpan.”
“Sstt…tentu saja bukan pintu
rumahku, Sayang. Pintu rumahmu dong. Ayo, buka. Aku sudah tidak sabar. Banyak
sekali nyamuk di sini.”
“Mas Bayu? Kamu tidak becanda kan?”
Ariana panik seketika. Ia hanya mengenakan kaos rumahan dan celana pendek. Tapi
ia penasaran, ingin membuktikan apakah benar-benar Bayu sudah ada di depan
rumahnya. Dengan tangan gemetar ia membuka kunci pintu. Si Beti melompat masuk,
disusul oleh seseorang di belakangnya. Ariana tertegun. Itu memang benar-benar
Bayu. Jadi, dari tadi dia sudah pulang dan ada di situ. Astaga.
“Maafkan aku, jadwalku berubah dan
aku pulang mendadak. Lagi pula aku sudah kangen. Boleh aku masuk?” Pemuda itu
menatap gadis di depannya dengan penuh harap. Ariana mengangguk. Ia menatap
Bayu, masih tidak percaya dengan kehadiran pemuda itu di dalam kenyataan. Sudah
beberapa malam, sejak melihat pemuda itu di balik pagar, wajahnya selalu
menghias mimpi-mimpi Ariana.
“Masuklah. Aku berganti pakaian
dulu. Nanti aku panggilkan ibu.” Ariana berpaling, lalu berbalik ke dalam
rumah. Bayu mengikutinya. Tiba-tiba, tanpa diduga ia menarik tangan gadis di
depannya. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Bayu
mendekatkan wajahnya, lalu berbisik ke telinga Ariana.
“Aku sudah bilang kepada ibu, bahwa
aku menyukai kamu. Aku ingin serius denganmu.”
“Lho, kok kamu sudah mendahului
bilang ke ibu? Bagaimana kalau aku tidak setuju?” Ariana berbisik pelan. Ia
tidak menduga bahwa Bayu sudah melangkah lebih jauh.
“Tidak mungkin kamu bilang tidak
setuju. Atau aku akan ambil lagi si Beatrix?” Bayu mengerlingkan matanya.
Ariana melongo. Akan mengambil Beatrix? Si Beti kesayangannya? Oh, tidak.
“Jangan ambil dia. Aku menyayangi Beatrix,
si Belang Tiga.” Ariana mengerutkan wajahnya. Pemuda di depannya merengkuhnya.
Ariana bergetar, tidak percaya bahwa ia berada di dalam pelukan Bayu.
“Kalau begitu aku akan ambil
semuanya. Beatrix dan kamu sekalian.” Bayu memeluk Ariana lebih ketat membuat
gadis itu gelagapan.
“Ambillah. Bawalah. Aku akan
mengikutimu.” Hanya itu yang dapat diucapkan Ariana sebelum ia tenggelam dalam
pelukan hangat yang diimpikannya.**
**
Bintaro,
10 September 2023