Sunday, September 10, 2023

Cinta Belang Tiga

 

#Cerpen

 

CINTA BELANG TIGA

Oleh : Ietje S. Guntur

 

            Ariana sedang membereskan barang-barang yang baru dikirim dari rumahnya yang lama.. Sejak ayahnya meninggal ia harus merubah banyak hal di dalam kehidupannya. Semula ia hanya menyewa sebuah kamar kos, dan pulang ke rumah setiap akhir pekan. Kini ia memutuskan tinggal bersama ibunya lagi dan menempati rumah yang lebih kecil di kawasan yang lebih dekat jaraknya dari kantornya . Tiba-tiba seekor kucing belang tiga masuk ke ruangan, mengeong pelan seakan minta perhatian. Ariana menoleh. Perut kucing itu tampak besar dan berat. Ariana kasihan melihatnya.

            “Bu, ada stok makanan di kulkas?” Tanya Ariana ketika melihat ibunya sedang berada di dapur. Kucing itu mengikutinya, seakan tahu akan diberi makanan.

            “Kucing siapa itu?” Ibunya balas bertanya.

            “Nggak tahu, Bu. Mungkin dia lapar. Kita kasih makan sedikit deh. Kasihan, sepertinya diia kelaparan.”

            “Ibu baru lihat kucing ini ke mari. Dari kemarin tidak ada. Kok dia mengikuti kamu, apa dipikirnya ini rumahnya?”

            “Boleh jadi ini kucing peninggalan penghuni lama, ya Bu. Ya, sudahlah biar saja dia di sini, bisa menemani kita dan mungkin sekalian menangkap tikus.”

            “Iya, bisa jadi teman ibu kalau kamu sedang pergi kerja. Ibu belum sempat bepergian dan berkenalan dengan tetangga kiri kanan. Hanya tetangga depan kemarin menyapa sekilas.”

            Ariana mengambil sepotong ikan goreng sisa makan siang yang disimpannya dalam wadah plastik di kulkas. Ia menaruh potongan ikan itu di piring bekas kemasan makanan lalu membiarkan si Kucing menyantapnya. Ternyata kucing itu suka dengan ikan goreng, dan dalam sekejap sudah habis disantapnya, kecuali beberapa helai duri yang tertinggal. Ariana tersenyum melihat kucing itu membaringkan tubuh di dekat kakinya.

            “Bagus bulunya, Bu. Kelihatannya ini kucing betina. Perutnya cukup besar, kemungkinan besar dia hamil dan segera memiliki anak. Besok aku belikan makanan kucing deh, ada toko di jalan raya yang menjual makanan dan keperluan hewan. Ibu nggak keberatan kalau kita memeliharanya kan?” Ariana mengajuk ibunya. Selama ini mereka tidak memelihara hewan apa pun, karena ayahnya alergi bulu kucing.

            “Wah, ibu malah senang sekali. Nanti ibu carikan kardus bekas dan alas untuk tidurnya. Kita taruh di teras saja, di bawah atap carport. Eh, siapa namanya, ya? Masa dipanggil Pus Pus saja? Nggak kreatif banget.” Ibunya tersenyum.

            “Iya…mesti ada namanya. Berhubung dia kucing betina dan bulunya belang tiga, kita kasih nama si Beti saja. Belang Tiga, gampang.” Ariana tertawa kecil. Kucing belang tiga yang akhirnya mendapat nama Beti itu mengeong lembut, seakan menerima namanya sebagai panggilan.

*

            Tanpa terasa sudah beberapa hari si Beti betah di rumah Ariana. Dia selalu mengantarkan gadis itu saat berangkat ke kantor dengan sepeda motor, dan menyambutnya di teras ketika mendengar suara motor mendekati halaman. Ini seakan menjadi ritual mereka berdua. Beti juga tahu, bahwa setelah merapikan tas dan berganti pakaian, ia akan mendapat makanan cemilan dari Ariana.

            “Si Beti ini tahu, dia manjanya ke kamu. Kalau sama ibu dia masih ragu-ragu. Paling dia mengikuti ibu ke dapur, terus goleran sampai siang. Kadang dia ke luar sebentar di carport, lalu balik lagi ke dapur. Jarang dia masuk ke dalam kotak tempat tidurnya. Apa kita pindahkan saja kotak itu ke dalam rumah, ya?”

            “Boleh juga, Bu. Sekalian berjaga-jaga kalau dia melahirkan. Kasihan anak-anaknya kalau lahir di luar sana. Kuatir angin dan hujan.” Ariana mengambil kotak tempat tidur Beti, lalu memindahkannya ke ruang tengah, di depan kamar tidurnya. Kucing belang tiga itu mengeong sejenak, lalu mengikuti Ariana. Tampaknya ia senang dengan tempatnya yang baru, dan tanpa menunggu lama langsung melompat masuk dan berbaring nyaman di dalamnya.

            Keesokan harinya Ariana dikejutkan oleh suara anak kucing yang memecah keheningan subuh. Ia bangkit dari ranjang dan setengah mengantuk pergi ke luar. Di dalam kotak tampak si Beti sedang menjilati bola-bola bulu kecil yang bergerak.

            “Astaga…si Beti sudah punya anak. Jam berapa dia melahirkan, ya?” Bisiknya pelan. Tidak lama kemudian ibunya ke luar dari kamar dan ikut mengamati si Beti beserta anak-anaknya. Ada 3 ekor bayi kucing dengan warna yang berbeda-beda. Satu berwarna putih dengan bercak hitam, satu berwarna kuning jingga, dan satu berwarna hitam legam.

            “Aih…lucu sekali anak kucingnya. Semua belum bisa membuka mata. Oya, nanti kita beri makanan ekstra untuk si Beti, dia pasti lelah dan lapar setelah mengeluarkan tenaga untuk melahirkan.” Ibunya berkomentar lalu ikut berlutut di dekat kotak tidur si Beti dan mengelus kepalanya. Kucing itu mengeong pelan lalu memejamkan matanya dengan tenang.

            “Iya, Bu…lucu banget. Aku kaget dengar suara anak kucing. Ternyata kita punya anggota keluarga baru.” Ariana tersenyum. Entah mengapa, ada rasa bahagia ketika melihat mahluk berbulu yang baru lahir itu sibuk menyusu ke dada induknya.

*

            Sekarang Ariana punya kegiatan baru. Setelah mengurus si Beti dan anak-anaknya, baru dia berangkat kerja. Pada sore hari ia pun bergegas pulang untuk menyaksikan anak-anak si Beti yang tumbuh cepat. Si Hitam sudah mulai bergerak dan menyusuri kotak. Si Beti kadang ke luar dari kotak, mengambil makanan dan pergi ke luar sejenak. Rupanya ia pun perlu meluruskan punggung. Ariana tersenyum memperhatikan kelakuan si Beti dan anak-anaknya. Ada pengetahuan baru dan kegembiraan yang tidak dapat digambarkannya. Ia sibuk mencari informasi tentang perawatan kucing dan sesekali berbincang dengan teman kantornya yang juga memiliki kucing.

            Setelah sibuk dengan rutinitas barunya, hari ini Ariana dikejutkan dengan hilangnya Beti beserta anak-anaknya. Ketika ia pulang dari kantor, tidak ada Beti yang menyambutnya. Semula dipikirnya Beti sedang menyusui anak-anaknya, tapi ketika dilihatnya kotak itu kosong, ia mulai merasa panik.

            “Bu…lihat si Beti? Kok kotaknya kosong? Dia nggak ada.” Ariana menyambangi ibunya yang sedang menjahit di kamar. Sebagai perintang waktu, sekarang ibunya aktif membuat berbagai kerajinan dari kain yang dijualnya di komunitas kreatif. Wanita paruh baya itu menoleh lalu melepaskan kacamata bacanya.

            “Si Beti nggak ada di kotaknya? Mungkin dia ke luar sebentar. Tadi masih ada di situ dengan anak-anaknya.” Ibunya bangkit, meninggalkan jahitannya, lalu menyusul Ariana ke luar.

            Kotak itu kosong. Bahkan isi wadah makanan si Beti masih utuh. Berarti ia tidak makan siang tadi. Kemana perginya kucing belang tiga itu? Ariana merasa gundah. Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadap si Beti dan anak-anaknya?

            Malam itu Ariana tidak bisa tidur. Tadi ia sudah mencari di sekeliling rumah, barangkali si Beti ada di gudang atau di kamar belakang yang berisi tumpukan barang yang belum sempat dibongkar. Ariana memanggil-manggil, tidak ada sahutan sama sekali. Ke mana si Beti membawa anak-anaknya? Konon seekor kucing yang baru melahirkan sering membawa pindah anaknya untuk keamanan. Biasanya tidak jauh dari tempatnya melahirkan. Tapi kali ini Beti entah pergi ke mana.

*

            Beberapa hari Beti tidak ada di rumah. Semua terasa sepi dan berbeda. Biasanya ada sesuatu yang berseliweran di dekat kaki Ariana, atau duduk manis di sudut sofa. Ariana sudah bertekad, hari Minggu besok ia akan keliling ke rumah tetangga untuk mencari keberadaan si Beti.

            Baru saja Ariana masuk ke kamarnya, tiba-tiba didengarnya suara meongan di depan pintu ruang tamu. Segera Ariana bergegas membuka pintu dan melihat Beti di sana, sendirian.

            “Aduh Beti, kemana saja kamu? Aku jadi cemas, tahu? Mana anak-anakmu? Ayo, masuk. Makan dulu, pasti kamu lapar, ya?” Ariana memberondong kucing itu dengan sejumlah pertanyaan berbalut kecemasan. Si Beti melengos, menggoyangkan ekornya lalu lari ke tempat makanannya. Tanpa banyak mengeong, Beti menunduk lalu mulai makan pelahan. Dalam sekejap wadah makanan itu kosong. Ariana tersenyum lalu mengelus kepala Beti. Kucing yang sudah kenyang itu seperti biasa langsung berselonjor di lantai. Ia menjilat-jilat tubuhnya yang tampak agak kurus. Mungkin selama pergi dari rumah ia tidak mendapat makanan yang cukup.

            Ariana sudah senang si Beti Kembali ke rumah, tapi ia mencemaskan anak-anaknya. Di mana Beti menyembunyikan bayi-bayi kucing itu?

            Tidak lama berselonjor, kucing belang tiga itu bergegas ke pintu seakan minta ke luar. Ariana cukup tanggap. Ia segera membuka pintu dan dalam sekejap si Beti melesat, lalu menghilang di dalam kegelapan malam. Ariana tertegun. Ternyata si Beti hanya pulang untuk mengatakan, bahwa ia baik-baik saja, tapi belum berniat untuk pulang.

*

            Hari Minggu. Ariana tidak ada kegiatan khusus. Ia sudah tahu, bahwa si Beti aman di suatu tempat yang tidak ingin diketahui oleh siapa pun. Ia hanya berdoa agar si Beti segera kembali dan betah tinggal di rumahnya, tidak bepergian kemana-mana lagi. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara di sebelah rumahnya. Dari semua tetangga di sekitar rumahnya, hanya tetangga sebelah kiri ini yang belum dikenalnya. Kata Pak RT, rumah itu ditinggali oleh seorang pemuda yang sering bertugas di luar kota.

            Ariana ke luar, dan tiba-tiba melihat si Beti membawa anaknya di atas pagar. Setengah berlari ia menyambut si Beti. Kucing itu melengos, lalu dengan anaknya di mulut ia berlari masuk ke dalam rumah. Ariana memandang tidak percaya. Si Beti sudah berniat pulang sekarang.

            “Hai…Pus…Pus…mau dibawa ke mana anakmu?” Suara yang berat terdengar kembali. Ariana memanjangkan lehernya dan mendadak pandangannya bertemu dengan seseorang di seberang pagar.

            “Pus…pus yang mana Anda maksudkan?” tanya Ariana, setengah cemas. Ia kuatir, kalau si Beti adalah milik orang di seberang pagar itu. Orang itu menatapnya sejenak, lalu tersenyum. Mau tidak mau, Ariana ikut tersenyum. Pemuda itu cukup tampan, walaupun kelihatannya baru bangun tidur dan belum mandi.

            “Itu, kucing yang baru saja melompat dari pagar ini, membawa anaknya.” Pemuda itu menjelaskan.

            “Oh, itu si Beti. Kucing saya. Dia baru melahirkan 3 ekor anak kucing yang lucu. Jadi selama beberapa hari ini si Beti ada di situ?”

            “Si Beti? Namanya Beatrix, si kucing ratu. Sudah agak lama saya memeliharanya, tapi karena belakangan ini saya sering ke luar kota, dia menjadi agak terlantar.”

            “Oh, maaf. Saya pikir, si Beti kucing penghuni lama di rumah ini. Saya baru tinggal di sini. Kami belum sempat berkenalan dengan semua tetangga. Baru beberapa kenal beberapa. Perkenalkan, saya Ariana. Tinggal di sini bersama ibu saya.” Ariana akhirnya memperkenalkan diri. Pemuda itu tersenyum hangat.

            “Kenalkan juga, saya Bayu. Tinggal sendirian di sini. Saya jarang di rumah. Mungkin itu sebabnya si Beatrix, eh siapa tadi, si Beti mencari rumah baru untuk melahirkan anak-anaknya. Tidak apa-apa, saya senang karena si Beti terlihat sangat terawat sekarang. Terima kasih, ya.”

            “Terima kasih sama-sama. Saya menjaga si Beti karena dia lucu dan manja sekali. Sekalian untuk menemani ibu saya kalau saya sedang ke kantor. Biarlah si Beti yang memilih, mau tinggal di mana. Saya akan menjaganya kalau dia tidur di sini. Ada kotak tidurnya di dalam.” Ariana lega sekarang, karena selama ini ternyata si Beti aman terlindung, justru di rumahnya yang asli. Dasar kucing!

*

            Sejak hari itu si Beti tampak bahagia bisa berpindah dari rumah Ariana ke rumah Bayu. Ia membawa serta anak-anaknya, bolak balik. Pada siang hari ia berbaring santai di carport rumah Ariana, dan pada malam harinya ia tidur di dalam kotak yang hangat dengan alas selimut. Ariana memanjakan si Beti dan ketiga anaknya dengan berbagai makanan dan mainan. Sungguh seperti mengasuh anaknya sendiri.

            Sore ini ketika Ariana sedang bermain-main dengan anak-anak si Beti terlihat mobil Bayu memasuki halaman rumah sebelah. Tidak lama kemudian Bayu muncul di depan pagar rumah Ariana sambil membawa sebuah bungkusan besar. Ariana ke luar menyambut pemuda itu sambil bertanya-tanya di dalam hati.

            “Ini aku bawakan makanan dan mainan untuk si Beatrix dan anak-anaknya. Aku rasa mereka cukup betah tinggal di sini. Si Beatrix semakin jarang pulang.” Bayu tertawa kecil sambil mengangsurkan bungkusan yang dibawanya.

            “Namanya juga kucing, dia akan pulang ke tempat yang paling nyaman untuk mereka. Waduh, banyak sekali makanan dan mainannya. Stok makanan di sini juga masih banyak, termasuk yang untuk kitten. Aku juga sudah membuat kotak tidur yang lebih besar. Kasihan si Beti, harus bergelung ditimpa anak-anaknya.” Ariana menyambut bungkusan itu, lalu meletakkannya di teras.

            “Tidak apa-apa. Ini makanan masih baru, tanggal kadaluarsanya masih lama. Aku sekalian menitip si Beatrix. Besok aku ke luar kota, mungkin agak lama, jadi rumah kukunci rapat. Pasti dia tidak bisa masuk ke rumah. Biar dia tidur di sini saja dan anak-anaknya juga lebih aman.”

            Setelah urusan si Beti atau Beatrix usai, mereka malah mengobrol kian ke mari. Ternyata Bayu bekerja sebagai ahli riset marketing di sebuah perusahaan multi nasional. Pantas saja ia jarang di rumah. Ariana merasa nyaman mengobrol dengan pemuda itu, dari hal-hal sederhana seperti urusan perkucingan sampai urusan yang agak rumit tentang strategi pemasaran. Tampaknya ada hal-hal menarik yang dapat dibicarakan dengan pemuda itu.

*

            Waktu mengalir seperti siput yang merayap. Kepergian Bayu ternyata membawa dampak bagi Ariana. Tidak saja sebagai tetangga dan pemilik kucing belang tiga yang sekarang diasuhnya, tapi juga sebagai seseorang yang mulai mengisi relung hatinya. Ada kerinduan yang mengetuk hati setiap kali ia melihat melalui pagar rumahnya, pintu dan jendela di rumah sebelah masih tertutup rapat. Untuk tetap menjaga silaturahmi, kadang mereka saling bertukar kabar melalui pesan singkat, paling sering tentu tentang si Beti atau Beatrix. Dari pembicaraan omong kosong itu biasanya berlanjut ke pembicaraan lain. Tapi tidak ada yang menyentuh langsung tentang perasaan mereka. Sampai suatu hari.

            “Malam minggu ini kamu ada acara?” pesan singkat dari Bayu. Ariana tertegun. Sudah bertahun-tahun ia tidak memiliki acara khusus, kecuali ada acara dari kantor. Ia terlalu sibuk bekerja dan tahun lalu menyelesaikan kuliah magisternya. Baru tahun ini ia merasa bisa bernafas lebih lega.

            “Tidak ada. Paling nonton TV sama Ibu dan si Beatrix.” Ia membalas cepat.

            “Tidak keberatan kalau aku ajak makan di luar?” pesan baru masuk lagi.

            “Lha, bukannya kamu masih di luar kota?” Ariana bertanya heran. Ia mengirim emoticon tanda tanya.

            “Besok aku pulang. Aku hanya ingin memastikan, bahwa ada yang menungguku di rumah.”

            “Beatrix ada. Dia menunggu di rumahku.” Ariana membalas, disertai emoticon kucing.

            “Sedih. Masa hanya Beatrix? Tidak ada yang lainnya?”

            Ariana tertegun. Pertanyaan Bayu telah menunjukkan sebuah harapan. Jantung Ariana berdebar keras. Apakah Bayu mengujinya, atau memang serius?

            “Aku menunggu kamu.” Akhirnya Ariana menjawab sambil menghela nafas lega. Sebenarnya ia sudah lama ingin mengatakan, bahwa ia selalu menunggu kedatangan pemuda itu, tapi tentu saja kurang pantas bila ia mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu.

            “Serius?”

            “Tentu saja. Sejak kapan aku tidak serius?”

            Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk, dari Bayu. Dengan tangan gemetar dan jantung berdebar Ariana memencet tombol jawab. Suara Bayu yang hangat terdengar di seberang sana.

            “Ariana, kamu sudah serius kan? Sudah mantap? Aku ini pengelana kian ke mari. Sudah siap kalau sering ditinggal pergi?”

            “Ya, Mas Bayu. Aku serius. Aku sudah mengamati kamu sejak awal. Tidak apa-apa kalau kamu sering pergi, asalkan kamu tahu jalan pulang kembali. Seperti si Beti atau si Beatrix.”

            “Oh, oke. Aku yakin sekarang. Kalau begitu aku akan pulang segera. Mau membukakan pintu untukku sekarang?”

            “Sekarang? Bagaimana mungkin? Pintu rumahmu kan dikunci. Kuncinya kamu yang simpan.”

            “Sstt…tentu saja bukan pintu rumahku, Sayang. Pintu rumahmu dong. Ayo, buka. Aku sudah tidak sabar. Banyak sekali nyamuk di sini.”

            “Mas Bayu? Kamu tidak becanda kan?” Ariana panik seketika. Ia hanya mengenakan kaos rumahan dan celana pendek. Tapi ia penasaran, ingin membuktikan apakah benar-benar Bayu sudah ada di depan rumahnya. Dengan tangan gemetar ia membuka kunci pintu. Si Beti melompat masuk, disusul oleh seseorang di belakangnya. Ariana tertegun. Itu memang benar-benar Bayu. Jadi, dari tadi dia sudah pulang dan ada di situ. Astaga.

            “Maafkan aku, jadwalku berubah dan aku pulang mendadak. Lagi pula aku sudah kangen. Boleh aku masuk?” Pemuda itu menatap gadis di depannya dengan penuh harap. Ariana mengangguk. Ia menatap Bayu, masih tidak percaya dengan kehadiran pemuda itu di dalam kenyataan. Sudah beberapa malam, sejak melihat pemuda itu di balik pagar, wajahnya selalu menghias mimpi-mimpi Ariana.

            “Masuklah. Aku berganti pakaian dulu. Nanti aku panggilkan ibu.” Ariana berpaling, lalu berbalik ke dalam rumah. Bayu mengikutinya. Tiba-tiba, tanpa diduga ia menarik tangan gadis di depannya. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Bayu mendekatkan wajahnya, lalu berbisik ke telinga Ariana.

            “Aku sudah bilang kepada ibu, bahwa aku menyukai kamu. Aku ingin serius denganmu.”

            “Lho, kok kamu sudah mendahului bilang ke ibu? Bagaimana kalau aku tidak setuju?” Ariana berbisik pelan. Ia tidak menduga bahwa Bayu sudah melangkah lebih jauh.

            “Tidak mungkin kamu bilang tidak setuju. Atau aku akan ambil lagi si Beatrix?” Bayu mengerlingkan matanya. Ariana melongo. Akan mengambil Beatrix? Si Beti kesayangannya? Oh, tidak.

            “Jangan ambil dia. Aku menyayangi Beatrix, si Belang Tiga.” Ariana mengerutkan wajahnya. Pemuda di depannya merengkuhnya. Ariana bergetar, tidak percaya bahwa ia berada di dalam pelukan Bayu.

            “Kalau begitu aku akan ambil semuanya. Beatrix dan kamu sekalian.” Bayu memeluk Ariana lebih ketat membuat gadis itu gelagapan.

            “Ambillah. Bawalah. Aku akan mengikutimu.” Hanya itu yang dapat diucapkan Ariana sebelum ia tenggelam dalam pelukan hangat yang diimpikannya.**

**

Bintaro, 10 September 2023